Emas Menguat saat Risiko Hormuz dan Lebanon Masih Membayangi
Harga emas menguat untuk hari ketiga berturut-turut, ketika pelaku pasar menimbang peluang penyelesaian diplomatik perang Iran, meski ketegangan yang masih berlangsung berisiko menggagalkan gencatan senjata yang rapuh. Emas batangan diperdagangkan di sekitar US$4.770 per ounce, memperpanjang kenaikan sekitar 1,5% dalam dua sesi sebelumnya.
AS dan Iran bersiap menggelar pembicaraan damai di Pakistan, dengan gencatan senjata sementara sebagian besar bertahan. Namun sejumlah isu masih belum terselesaikan, termasuk ofensif Israel di Lebanon serta pembukaan Selat Hormuz. Wakil Presiden AS JD Vance diperkirakan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan di Islamabad pada Sabtu, sementara pejabat Iran dijadwalkan tiba di ibu kota Pakistan pada Kamis. Kedua pihak terlihat menahan serangan di kawasan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata setelah hampir enam pekan pertempuran. Di pasar, minyak bertahan di atas US$95 per barel, saham memantul, dan indeks dolar melemah.
“Emas mengikuti headline dengan ketat karena risiko geopolitik belum terselesaikan dan gencatan senjata terlihat rapuh, sehingga volatilitas jangka pendek tetap tinggi,” kata Ewa Manthey, commodity strategist di ING Bank. Ia menambahkan prospek jangka panjang tetap konstruktif, ditopang pembelian bank sentral, diversifikasi cadangan, dan kemungkinan suku bunga riil tidak akan ketat selamanya.
Perang yang memasuki bulan kedua mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan risiko inflasi, sehingga memperbesar kemungkinan bank sentral menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan menaikkan suku bunga. Kondisi ini biasanya menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, perang yang berkepanjangan juga berpotensi menekan pertumbuhan, melemahkan pasar tenaga kerja, dan pada akhirnya mendorong suku bunga lebih rendah. Notulen rapat FOMC 17–18 Maret yang dirilis Rabu menunjukkan pembuat kebijakan menimbang dua skenario yang kontras ini.
Data terbaru pada Kamis menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih lambat dari perkiraan sebelumnya pada akhir 2025. Belanja konsumen hampir tidak naik pada Februari di tengah inflasi yang masih bertahan dan diperkirakan akan meningkat akibat perang. Indeks core PCE—indikator inflasi pilihan The Fed yang mengecualikan makanan dan energi—naik 0,4% dari Januari, dan naik 3% secara tahunan. Meski laporan PCE belum menangkap lonjakan harga energi terbaru, pasar menunggu rilis CPI pada Jumat yang diperkirakan akan memuat sebagian dampaknya.
Sejak perang dimulai hampir enam pekan lalu, emas banyak bergerak searah dengan saham, sementara daya tariknya sebagai safe haven melemah karena sebagian investor menjual untuk menutup kerugian di aset lain. Analis Standard Chartered menilai peran emas sebagai penyedia likuiditas masih menonjol, sehingga pemulihan jangka pendek terlihat rapuh, meski pasar fisik diperkirakan menjadi penopang. James Luke dari Schroder menilai emas akan bergerak naik secara bertahap bahkan jika krisis berkepanjangan, ditopang “debasement trade” terkait kekhawatiran fiskal dan kebutuhan lindung nilai terhadap dolar AS.
Pada 15:07 waktu New York, emas spot naik 1,3% ke US$4.780,57 per ounce. Perak naik 2,6% ke US$76,02, platinum menguat, sementara paladium melemah. Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,2% setelah turun 0,8% pada sesi sebelumnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id