Harga Minyak Naik dalam Sesi Volatil Setelah Serangan Pangkas Pasokan Saudi
Harga minyak menguat dalam perdagangan yang bergejolak, didorong sinyal tambahan hilangnya pasokan dari Timur Tengah serta arus pelayaran melalui Selat Hormuz yang masih sebagian besar terhambat. Kontrak WTI untuk pengiriman Mei ditutup mendekati US$98 per barel setelah sempat naik hampir ke US$103, sementara Brent untuk pengiriman Juni berada di sekitar US$97 per barel.
Menurut kantor berita pemerintah, serangan terhadap fasilitas Arab Saudi telah membuat lebih dari 600.000 barel per hari kapasitas produksi offline. Kedua acuan minyak bergerak volatil lebih awal di sesi perdagangan, menyusul berita yang saling bertentangan terkait negosiasi antara Israel dan Lebanon.
Iran menyebut serangan Israel ke Lebanon sebagai “pelanggaran yang jelas” terhadap gencatan senjata rapuh yang disepakati pekan ini. Harga minyak pun sensitif terhadap perkembangan headline seputar status perundingan, dengan likuiditas pasar cenderung menipis.
Pasar juga tetap tegang karena arus melalui Selat Hormuz masih terpangkas tajam. Kepala perusahaan minyak terbesar UEA mengatakan Iran membatasi akses lintasan, sementara wakil menteri luar negeri Iran mengatakan kepada media Inggris bahwa kapal membutuhkan persetujuan Iran untuk melintas. Hampir tertutupnya jalur ini—yang sebelum serangan awal AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari menyalurkan sekitar seperlima minyak dan LNG dunia—telah memicu gangguan pasokan pasar minyak terbesar dalam sejarah.
Pada Kamis, dua kapal tanker minyak China yang bermuatan penuh di Teluk Persia dilaporkan mendekati selat, berpotensi menjadi kapal pertama yang melintas sejak gencatan senjata diumumkan. Namun keberhasilan lintasan belum pasti, dan lalu lintas kapal dalam sehari terakhir disebut belum banyak berubah.
“Pasar cenderung mematok skenario pembukaan penuh, tetapi realitas fisik menunjukkan pemulihan arus akan bertahap—dan belum benar-benar dimulai,” kata Rebecca Babin, senior energy trader di CIBC Private Wealth Group. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan jalur aman memungkinkan melalui pedoman tertentu. Sementara itu, Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran mengumumkan dua rute aman bagi kapal yang masuk dan keluar dari selat, menurut Nour News, yang disebut disiapkan untuk menghindari kemungkinan ranjau.
Di sisi AS, Presiden Donald Trump menulis di media sosial bahwa personel dan persenjataan militer AS akan tetap berada di sekitar Iran “sampai KESPAKATAN NYATA dipatuhi sepenuhnya.” Ia menambahkan jika Iran tidak mematuhi, “tembak-menembak dimulai,” dengan skala yang “lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat” dari sebelumnya.
Bahkan jika lalu lintas Hormuz mulai pulih, pasokan energi diperkirakan tidak kembali normal secara instan. Produksi di ladang minyak dan gas telah dikurangi, sementara kilang menurunkan produksi atau menghentikan operasi—sebagian diperkirakan memerlukan waktu berminggu-minggu atau lebih lama untuk pulih. Trader juga masih memburu minyak Laut Utara dengan premi tinggi, mengindikasikan pasar fisik tetap ketat.
WTI Mei naik 3,7% dan ditutup di US$97,87 per barel. Brent Juni naik 1,9% ke US$96,56 per barel pada 14:41 ET.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id