Emas Pulih, Ketidakpastian Iran dan Pengetatan Masih Membayangi
Harga emas menguat setelah Presiden AS Donald Trump kembali memperpanjang tenggat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, meredakan tekanan jual sehari sebelumnya meski ketidakpastian perang belum turun.
Emas sempat naik hingga 2,3% dan menembus US$4.475/oz setelah Trump berjanji menahan serangan ke fasilitas energi Iran selama 10 hari tambahan. Namun konflik tetap panas: Iran dan Israel masih saling meluncurkan rudal, Teheran juga menargetkan beberapa negara Teluk Persia, sementara harga minyak ikut naik.
Meski memantul, emas masih turun lebih dari 15% sejak perang dimulai 28 Februari, dan pergerakannya dinilai tidak lagi murni safe-haven. Energi mahal meningkatkan risiko inflasi dan membuat pasar mem-price in suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kenaikan, sehingga menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas. Tekanan tambahan datang dari laporan bahwa bank sentral Turki menjual dan melakukan swap sekitar 60 ton emas dalam dua pekan (lebih dari US$8 miliar), memunculkan pertanyaan apakah arus pembelian bank sentral—yang selama ini menjadi pilar reli emas—akan melambat jika diikuti institusi lain.
TD Securities menilai emas saat ini lebih diperdagangkan sebagai aset berisiko, karena perang menggerus surplus di Asia Timur dan merusak permintaan sektor resmi untuk sementara.
Pada 09:55 di New York, emas spot naik 1% ke US$4.422,75/oz. Perak relatif stabil di US$67,91, sementara platinum dan paladium menguat; indeks dolar Bloomberg naik 0,1%.(yds)
Sumber: newsmaker.id