Emas Tembus $4.800!
Harga emas kembali melesat pada perdagangan sesi Asia pagi ini dan menembus level $4.800 per ons. Lonjakan ini terjadi ketika pasar global masuk mode “cari aman”, dipicu ketegangan geopolitik yang makin panas dan kekhawatiran baru dari pasar obligasi.
Pemicu terbesarnya datang dari krisis Greenland yang memburuk. Ancaman tarif AS terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland membuat investor menilai risiko perang dagang semakin nyata. Saat ketegangan dagang meningkat, pasar biasanya langsung menurunkan porsi aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset pelindung nilai, dengan emas jadi pilihan utama.
Yang membuat reli emas makin kencang adalah dolar AS yang melemah. Dalam situasi ini, pelemahan dolar terjadi karena kekhawatiran pasar justru datang dari kebijakan AS sendiri, sehingga sebagian investor memilih mengurangi eksposur ke aset dolar. Ketika dolar turun, emas (yang dihargai dalam dolar) otomatis menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga permintaan ikut terdorong.
Di sisi lain, pasar juga diguncang oleh volatilitas obligasi pemerintah Jepang (JGB). Gejolak yield JGB memunculkan kekhawatiran yang lebih besar: kondisi fiskal negara maju dan stabilitas pasar utang global. Saat obligasi—yang biasanya dianggap “aman”—justru ikut bergejolak, investor mencari tempat berlindung yang tidak bergantung pada risiko gagal bayar atau kebijakan pemerintah. Emas sering menjadi jawaban saat “saham turun, obligasi juga tidak nyaman”.
Kombinasi Greenland + dolar melemah + JGB bergejolak memunculkan tema yang makin sering dibicarakan: “debasement trade”. Intinya, sebagian investor mulai menganggap risiko pelemahan nilai mata uang dan turunnya kepercayaan pada obligasi pemerintah meningkat, sehingga mereka memilih aset fisik seperti emas dan perak sebagai pelindung nilai.
Tekanan risk-off juga terlihat dari kinerja pasar saham yang cenderung melemah, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga dan saham pertumbuhan. Ketika saham tertekan dan obligasi volatil, arus dana ke logam mulia biasanya menjadi lebih deras karena investor mencari alternatif defensif yang paling “netral”.
Faktor lain yang ikut memperkuat reli adalah ekspektasi kebijakan suku bunga AS. Saat pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga tetap terbuka, daya tarik emas meningkat karena biaya peluang memegang emas (yang tidak memberi imbal hasil) menjadi lebih rendah. Ditambah lagi, spekulasi mengenai arah kebijakan bank sentral dan dinamika politik sering membuat investor memilih “parkir” di emas sampai ketidakpastian mereda.
Setelah rekor baru tercetak, pergerakan harga juga cenderung makin cepat karena faktor psikologis dan posisi spekulatif. Ketika level penting ditembus, banyak order lanjutan dan aksi ikut-ikutan (fomo) dapat membuat harga “meloncat” dalam waktu singkat—yang sering terjadi saat emas memasuki wilayah harga baru.
Ke depan, pasar akan memantau dua hal utama: respons Eropa terhadap ancaman tarif terkait Greenland dan arah komentar pejabat AS yang berpotensi mengubah persepsi risiko. Jika tensi geopolitik mereda atau pasar obligasi stabil, emas bisa mengalami koreksi teknis. Namun selama ketidakpastian masih tinggi, emas berpeluang tetap kuat—karena alasan utamanya sederhana: investor sedang membeli “rasa aman”.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id