Profit-Taking Hantam Emas dan Perak Pasca Melonjak
Harga perak dan emas mengalami penurunan tajam pada hari Senin (29/12) setelah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa sesi sebelumnya. Perak turun lebih dari 9% dalam penurunan intraday terbesar sejak 2021, setelah sebelumnya menembus $80 per ons untuk pertama kalinya. Permintaan spekulatif dari Tiongkok yang mendorong lonjakan harga perak kini mulai mereda, dengan indikator teknis menunjukkan bahwa reli harga sudah terlalu cepat dan terlalu tinggi.
Sementara itu, emas juga mengalami penurunan terbesar dalam dua bulan, turun 4,5% menjadi di bawah $4.329 per ons. Pembalikan tajam ini terjadi setelah harga emas mencapai rekor tertinggi minggu lalu, tetapi pasar menunjukkan tanda-tanda overbought, dengan momentum beli yang telah melampaui level 70 pada Indeks Kekuatan Relatif (RSI), sebuah indikasi pasar sudah jenuh beli.
Premi untuk perak di Shanghai naik lebih dari $8 per ons di atas harga London, yang menjadi selisih terbesar yang pernah tercatat. Namun, harga perak kemudian turun ke $71,96 per ons, menurunkan harapan akan kelanjutan reli besar pada logam ini. Di sisi lain, platinum juga merosot lebih dari 13% dan paladium anjlok lebih dari 15% dalam penurunan terbesar sejak 2022. Penurunan ini mempengaruhi sektor industri, khususnya yang membutuhkan perak untuk sel surya, dengan risiko kekurangan pasokan yang semakin nyata.
Selain itu, para pedagang semakin khawatir dengan potensi kerugian besar jika pasar bullish perak berbalik arah, mengingat persediaan yang hampir habis dan fluktuasi yang semakin tinggi. CME Group juga mengumumkan kenaikan margin untuk kontrak berjangka perak di Comex, sebuah langkah untuk mengurangi spekulasi dan menstabilkan harga pasar. Pasar perak kini menghadapi tantangan baru seiring penyidikan AS yang dapat menyebabkan pembatasan perdagangan atau tarif yang mengganggu pasokan perak global.
Secara keseluruhan, meskipun harga emas dan perak mengalami penurunan jangka pendek, faktor geopolitik dan ketidakpastian ekonomi tetap menjadi faktor pendukung jangka panjang, yang bisa mengarahkan kedua logam mulia tersebut kembali ke arah yang lebih tinggi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id