Emas Nanjak, Fed Makin Lembek?
Harga emas diperdagangkan di sekitar $4.270 per troy ounce pada hari Jumat, mendekati level tertinggi tujuh pekan dan bersiap menutup minggu ini dengan penguatan. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi bahwa The Fed masih akan melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa waktu ke depan. Bagi pasar, emas kembali dilirik sebagai aset lindung nilai ketika suku bunga diperkirakan turun.
Salah satu pemicu utama sentimen positif ke emas adalah tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS. Klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir 6 Desember naik lebih tinggi dari perkiraan dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Data ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS mulai melambat, sehingga ruang Fed untuk memangkas suku bunga menjadi lebih besar tanpa takut ekonomi “overheat”.
Sebelumnya, The Fed telah melakukan pemangkasan suku bunga 25 bps untuk ketiga kalinya tahun ini. Menariknya, nada yang disampaikan bank sentral kali ini tidak se-hawkish yang ditakutkan pasar. Ketua Fed Jerome Powell memberi sinyal bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan praktis sudah “off the table”. Artinya, fokus pasar kini bergeser dari “apakah Fed akan naikkan lagi” menjadi “seberapa cepat dan seberapa banyak Fed akan memotong suku bunga ke depan.”
Di atas kertas, proyeksi resmi Fed hanya mengisyaratkan satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026. Namun, pelaku pasar tidak sepenuhnya sepakat. Berdasarkan harga di pasar uang, trader justru memperhitungkan kemungkinan dua kali pemangkasan di tahun tersebut. Perbedaan persepsi ini menciptakan ruang spekulasi yang cukup besar, dan emas menjadi salah satu aset yang diuntungkan karena sensitif terhadap arah suku bunga dan yield obligasi.
Pada saat yang sama, Fed juga mengumumkan akan membeli sekitar $40 miliar surat utang jangka pendek (Treasury bills) untuk meredakan tekanan di pasar uang. Langkah ini diperkirakan akan menahan imbal hasil jangka pendek agar tidak naik terlalu tinggi, sehingga makin mendukung emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Kombinasi suku bunga yang cenderung turun, yield pendek yang tertahan, dan kekhawatiran halus soal perlambatan ekonomi membuat emas nyaman di zona bullish, sementara dolar berpotensi melemah bertahap, dan logam mulia lain seperti perak bisa ikut menikmati aliran minat beli jika sentimen “low rate, high liquidity” berlanjut.(asd)
Sumber: Newsmaker.id