Emas Melemah Lagi, Apakah Ini Awal Tren Turun?
Harga emas kembali tertekan di awal pekan, turun untuk sesi ketiga berturut-turut karena penguatan dolar AS menekan pergerakannya. Dolar kini bertahan dekat level tertinggi enam bulan, membuat emas—yang dihargai dalam dolar—menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri. Tekanan ini membuat emas spot bergerak di sekitar $4.051 per ounce, sementara futures AS justru sedikit menguat tipis.
Pasar kini terus menimbang peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember. Probabilitas rate cut yang sempat melonjak ke 74% kembali turun ke 69% seiring komentar campuran dari pejabat The Fed. Pernyataan dovish dari Presiden Fed New York John Williams sempat mendongkrak ekspektasi pemangkasan suku bunga, namun beberapa pejabat Fed lainnya tetap berhati-hati dan menilai pemangkasan terlalu cepat bisa membawa risiko bagi ekonomi.
Kondisi ini membuat emas kehilangan dukungan fundamental jangka pendek. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas biasanya diuntungkan ketika suku bunga turun. Namun dengan sinyal kebijakan yang belum jelas serta minimnya tensi geopolitik besar, analis menilai emas mungkin bergerak datar hingga cenderung melemah dalam 3–5 minggu ke depan.
Sementara itu, pasar logam lain bergerak lebih stabil. Harga perak cenderung datar di sekitar $49,9 per ounce, sedangkan platinum dan palladium masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 1%. Di sisi geopolitik, AS dan Ukraina kembali melanjutkan pembahasan rencana jalan damai dengan Rusia setelah proposal sebelumnya dinilai terlalu menguntungkan Moskow—sentimen yang juga memengaruhi pasar komoditas secara umum.(asd)
Sumber: Newsmaker.id