• Mon, Apr 13, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

13 April 2026 08:16  |

Emas dan BCO Jadi Sorotan, Konflik Timur Tengah Guncang Pasar

Resume
Pergerakan emas dan minyak mentah dalam periode pekan kemarin sama-sama sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS–Iran, khususnya terkait Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Untuk emas, pergerakannya cenderung fluktuatif karena pasar terus menimbang dua kekuatan besar yang saling tarik-menarik: di satu sisi, ketegangan geopolitik meningkatkan permintaan safe haven; di sisi lain, lonjakan harga energi berisiko mendorong inflasi lebih tinggi dan menahan ruang bank sentral, terutama The Fed, untuk melonggarkan kebijakan moneter. Kondisi ini membuat emas sempat tertekan di awal periode, karena pasar melihat konflik berkepanjangan dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dan mempertahankan tekanan suku bunga.

Seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap tenggat terkait Selat Hormuz, emas bergerak dua arah. Ketidakpastian soal peluang tercapainya kesepakatan membuat pelaku pasar berhati-hati. Jika gangguan di Hormuz terus berlanjut, inflasi energi berpotensi meningkat dan mendorong imbal hasil tetap tinggi, yang biasanya menjadi hambatan bagi emas. Namun pada saat yang sama, ancaman geopolitik yang belum mereda tetap menopang kebutuhan lindung nilai. Akibatnya, emas tidak membentuk arah yang benar-benar tegas, melainkan bergerak naik-turun mengikuti perubahan sentimen pasar.

Arah pasar kemudian berubah ketika muncul kabar gencatan senjata sementara. Sentimen risk-on langsung menguat secara global, dolar AS melemah, dan imbal hasil cenderung menurun. Kombinasi ini menjadi faktor positif bagi emas karena menurunkan opportunity cost untuk memegang aset non-yielding tersebut. Dalam fase ini, harga emas menguat cukup tajam dan sempat kembali menyentuh area tertinggi di sekitar US$4.850 per ounce. Meski demikian, penguatan itu tidak sepenuhnya stabil karena risiko geopolitik belum benar-benar hilang.

Setelah itu, pasar kembali menghadapi friksi baru dalam implementasi gencatan senjata. Muncul perbedaan tafsir mengenai pembukaan kembali Hormuz, isu pungutan atau toll, hingga eskalasi di front lain seperti Lebanon. Situasi ini membuat emas kembali sangat sensitif terhadap setiap headline. Ketika muncul tanda-tanda bahwa gencatan senjata rapuh atau berpotensi retak, permintaan safe haven meningkat dan emas terdorong naik. Namun saat dolar dan yield memantul, penguatan emas cepat terpangkas. Itulah sebabnya pola pergerakan emas pada fase ini terlihat tajam secara intraday dan cenderung penuh pembalikan arah.

Menjelang pembicaraan lanjutan AS–Iran, emas secara umum masih bertahan lebih tinggi dalam basis mingguan, meski sempat mengalami koreksi intraday akibat aksi ambil untung. Data inflasi AS yang menguat, terutama karena lonjakan energi, membuat pasar kembali menilai ulang arah suku bunga The Fed. Biasanya, inflasi yang tinggi bisa menjadi hambatan bagi emas karena memperkuat argumen suku bunga tetap tinggi lebih lama. Namun dalam konteks ini, pelemahan dolar dan ketidakpastian geopolitik masih cukup kuat untuk menjaga emas tetap relatif kokoh. Hasilnya, emas tetap mengarah ke kenaikan mingguan walaupun volatilitas masih tinggi.

Sementara itu, minyak mentah bergerak lebih ekstrem karena pasar langsung bereaksi terhadap ancaman dan peluang perubahan pasokan global. Pada awal periode, harga minyak masih dibayangi kekhawatiran besar terhadap gangguan suplai akibat ketegangan AS–Iran dan tekanan di Selat Hormuz. Brent dan WTI bertahan di level yang sangat tinggi, dengan WTI bahkan mencetak penutupan tertinggi dalam beberapa tahun. Ketakutan utama pasar adalah bahwa konflik berkepanjangan dapat mengganggu aliran minyak global dalam skala besar, meski di sisi lain kekhawatiran perlambatan ekonomi sempat membatasi kenaikan lebih lanjut.

Ketegangan itu sempat memuncak ketika laporan menyebut harga minyak fisik melonjak sangat tinggi akibat terganggunya jutaan barel pasokan per hari melalui Hormuz. Serangan terhadap fasilitas petrokimia Saudi juga memperbesar premi risiko, sehingga pasar menilai ancaman pasokan bukan hanya teoritis, melainkan nyata. Dalam situasi seperti ini, harga minyak biasanya bergerak naik bukan semata karena kekurangan aktual, tetapi juga karena pasar mulai memasukkan potensi risiko jangka pendek dan biaya gangguan distribusi ke dalam harga.

Namun perubahan besar terjadi ketika diumumkan adanya gencatan senjata sementara. Harapan bahwa arus pasokan dari Hormuz dapat kembali pulih memicu koreksi tajam pada minyak. Brent dan WTI anjlok besar dalam satu sesi, mencatat salah satu penurunan harian terdalam selama periode konflik tersebut. Reaksi ini menunjukkan bahwa sebelumnya pasar memang telah memberi premi risiko yang sangat tinggi, sehingga ketika ada peluang de-eskalasi, harga langsung melepas sebagian besar kenaikan yang dibangun dari ketakutan pasokan.

Meski begitu, koreksi tersebut tidak serta-merta menghapus seluruh kekhawatiran. Pasar kemudian menilai bahwa risiko pasokan belum benar-benar hilang. Gencatan senjata dianggap masih rapuh, lalu lintas tanker di Hormuz belum kembali normal, dan gangguan produksi di Saudi tetap menjadi faktor penahan suplai. Karena itu, minyak sempat bangkit kembali setelah kejatuhan tajam, didorong oleh pandangan bahwa proses normalisasi pasokan membutuhkan waktu dan tetap rentan terganggu oleh perkembangan geopolitik baru.

Menjelang pembicaraan AS–Iran berikutnya, harga minyak kembali melemah tipis, tetapi tetap bertahan di level yang secara historis masih tinggi. Secara mingguan, Brent dan WTI sama-sama membukukan penurunan besar, yang mencerminkan bagaimana pasar beralih dari fase panic pricing menuju fase repricing setelah muncul peluang de-eskalasi. Walaupun turun tajam dari puncaknya, harga minyak tetap menunjukkan bahwa risiko kawasan belum sepenuhnya hilang dan pasar masih memberi nilai pada kemungkinan gangguan pasokan lanjutan.

Secara keseluruhan, rangkaian pergerakan ini menunjukkan pola yang menarik: emas bergerak lebih kompleks karena dipengaruhi kombinasi safe haven, dolar, dan ekspektasi suku bunga, sementara minyak bergerak lebih langsung terhadap perubahan persepsi risiko pasokan. Ketika pasar takut Hormuz benar-benar terganggu, minyak melesat dan emas cenderung tertahan oleh kekhawatiran inflasi serta suku bunga tinggi. Sebaliknya, saat peluang gencatan senjata muncul, minyak jatuh tajam karena premi risiko berkurang, sementara emas justru mendapat dukungan dari pelemahan dolar dan turunnya yield. Dengan kata lain, keduanya sama-sama mencerminkan ketegangan geopolitik, tetapi melalui jalur transmisi pasar yang berbeda.

Prediksi pekan ini.

Gold saat ini masih bergerak dalam fase yang sensitif, karena pasar sedang menimbang dua hal utama: ketegangan geopolitik dan arah suku bunga AS. Dari sisi teknikal, harga di sekitar 4.701 menunjukkan bahwa emas sedang mencoba stabil setelah sempat turun tajam, tetapi belum cukup kuat untuk membentuk tren naik baru. Area 4.600 masih menjadi support penting, sedangkan 4.800 menjadi resistance terdekat yang perlu diperhatikan.

Dari sisi fundamental, konflik AS–Iran dan ketidakpastian di Selat Hormuz masih menjaga permintaan safe haven terhadap emas. Namun di saat yang sama, kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko inflasi, yang bisa membuat The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini membuat pergerakan emas menjadi naik-turun, karena sentimen aman mendukung harga, tetapi tekanan dari yield dan kebijakan moneter menahan kenaikannya.

Untuk sepekan ke depan, skenario emas kemungkinan masih cenderung volatil dalam range 4.600–4.800. Jika tensi geopolitik kembali memanas, emas berpeluang menguat dan menguji area 4.800 hingga 5.000. Sebaliknya, jika pasar lebih fokus pada inflasi dan sikap hawkish The Fed, emas bisa kembali tertekan ke area 4.600 atau bahkan 4.400. Jadi, arah emas minggu ini masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan fundamental, sementara secara teknikal market masih berada dalam fase konsolidasi.

Minyak (BCO) di area 101 saat ini masih menunjukkan struktur yang cukup kuat setelah sebelumnya mengalami lonjakan tajam akibat gangguan pasokan dan ketegangan di Selat Hormuz. Dari sisi teknikal, terlihat bahwa tren utama masih bullish, tetapi saat ini mulai masuk fase konsolidasi setelah rally besar. Area 100–98 menjadi support penting yang menahan harga, sementara resistance berada di kisaran 103–105. Selama harga masih bertahan di atas 100, bias minyak cenderung tetap bullish, meskipun pergerakannya mulai lebih choppy.

Dari sisi fundamental, minyak masih sangat ditopang oleh risiko pasokan global. Ketegangan AS–Iran, gangguan distribusi di Hormuz, serta belum normalnya arus tanker membuat pasar tetap memasukkan premi risiko ke dalam harga. Namun, berbeda dengan fase awal yang sangat agresif naik, saat ini pasar mulai menimbang kemungkinan de-eskalasi atau gencatan senjata. Ini yang membuat harga tidak lagi terbang tinggi, tetapi lebih cenderung stabil tinggi sambil menunggu kejelasan arah geopolitik.

Untuk satu pekan ke depan, skenario minyak relatif masih bullish selama tidak ada kabar damai yang signifikan. Jika tensi meningkat lagi, harga berpotensi kembali naik menembus 103–105 bahkan menuju level yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika negosiasi berjalan baik dan pasokan mulai pulih, harga bisa terkoreksi ke bawah 100 menuju area 98 atau 95. Jadi saat ini minyak berada di fase “high level consolidation”, di mana arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik dan kondisi suplai global.

 

DISCLAIMER

Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi.

 

Related News

Gold Corner

Analisis Mingguan Pergerakan Emas,Perak dan Minyak (21–25 ...

Selama periode 21 hingga 25 Juli, pasar komoditas global menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis, dipengaruhi oleh gejolak...

28 July 2025 11:22
Gold Corner

BCO Weekly Review And Forecast.

Harga minyak turun pada hari Senin (16/6), memangkas lonjakan 7% pada hari Jumat, karena serangan militer baru oleh Israel da...

23 June 2025 10:35
Gold Corner

BCO Weekly Review And Forecast.

Minyak anjlok lebih dari 7% pada hari Senin (23/6) karena respons Iran terhadap serangan militer AS menyelamatkan infrastrukt...

30 June 2025 09:40
Gold Corner

BCO Weekly Review And Forecast.

Harga minyak turun tipis pada hari Senin (30/6) karena investor mempertimbangkan meredanya risiko Timur Tengah dan kemungkina...

7 July 2025 09:40
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai