Tarik-Menarik Safe Haven dan Inflasi Energi Warnai Pergerakan Emas dan Minyak
Sepanjang periode 9–13 Maret 2026, pergerakan harga emas dan minyak menunjukkan volatilitas yang tinggi, dipengaruhi terutama oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz. Pada awal pekan, harga minyak melonjak tajam setelah pasar menilai terganggunya jalur strategis tersebut sebagai ancaman serius bagi pasokan global. Kenaikan harga energi kemudian mendorong peningkatan premi risiko, memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi global, dan memicu penilaian ulang terhadap prospek kebijakan moneter, khususnya kemungkinan suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Di sisi lain, harga emas sempat memperoleh dukungan pada awal hingga pertengahan pekan, terutama ketika pelemahan dolar AS meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut bagi investor non-USD, sementara permintaan aset safe haven juga menguat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Namun, penguatan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki paruh kedua pekan, dolar AS kembali terapresiasi, sedangkan harga minyak yang tetap tinggi memperkuat kekhawatiran inflasi dan semakin membatasi ruang pelonggaran kebijakan suku bunga. Kondisi ini menekan harga emas, yang pada akhirnya bergerak turun dan menutup pekan dalam jalur pelemahan mingguan kedua.
Sementara itu, meskipun harga minyak sempat mengalami koreksi pada Selasa akibat munculnya harapan meredanya konflik, pelemahan tersebut bersifat sementara dan lebih mencerminkan perubahan sentimen jangka pendek daripada perbaikan fundamental. Dalam praktiknya, lalu lintas tanker masih terganggu, biaya asuransi serta pengiriman tetap tinggi, dan ancaman terhadap infrastruktur energi terus membayangi pasar. Berbagai langkah stabilisasi, termasuk pelepasan cadangan darurat, dinilai belum memadai untuk sepenuhnya menggantikan potensi kehilangan pasokan fisik dari kawasan Teluk.
Secara keseluruhan, penutupan perdagangan pada akhir pekan menegaskan bahwa minyak tetap didukung oleh bias bullish akibat belum pulihnya kondisi pasokan dan tingginya premi risiko geopolitik. Adapun emas bergerak dalam tekanan yang lebih kompleks, yakni di satu sisi memperoleh dukungan dari perannya sebagai aset lindung nilai, tetapi di sisi lain tertekan oleh penguatan dolar AS, tingginya harga energi, dan ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan pada level ketat lebih lama. Dengan demikian, dinamika pasar selama sepekan tersebut mencerminkan dominasi faktor geopolitik dan inflasi energi dalam membentuk arah pergerakan kedua komoditas utama tersebut.
Prediksi pekan ini.
Untuk 1 pekan ke depan, gold di area 5.000 sebagai pivot utama. Dari chart, selama harga masih tertahan di bawah 5.030–5.050, arahnya cenderung sideways ke bearish dengan support dekat di 4.967, lalu 4.900. Sebaliknya, kalau bisa close harian di atas 5.120, peluang rebound terbuka ke 5.180–5.220.
Dari sisi fundamental, pasar minggu ini sangat fokus ke rapat FOMC 17–18 Maret. The Fed memang dijadwalkan rapat pada tanggal itu, sementara pasar global juga masih dibayangi harga minyak yang tetap tinggi akibat konflik di kawasan Teluk. Pada 16 Maret melaporkan Brent berada di sekitar US$103 dan WTI sekitar US$98, sehingga risiko inflasi energi masih membebani prospek pemangkasan suku bunga.
Jadi skenarionya simpel: selama gold di bawah 5.050, tekanan turun masih dominan karena dolar kuat dan pasar cenderung hati-hati menjelang The Fed; target bawahnya 4.967–4.900. Tetapi bila The Fed terdengar lebih lunak dari perkiraan atau tensi energi mereda, gold bisa rebound dan mencoba kembali ke 5.120. Tekanan jangka pendek ini juga sejalan dengan laporan Reuters bahwa emas baru saja mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut, tertekan oleh dolar yang lebih kuat dan kekhawatiran inflasi dari lonjakan minyak.
Untuk BCO, skenario 1 pekan ke depan masih bullish tapi sangat volatil. Dari chart harian, tren naiknya masih kuat dan area 104 sekarang jadi level penentu. Selama harga masih bertahan di atas 100–101, momentum naik masih aman. Resistance terdekat ada di 106–108, lalu 110–113. Kalau tembus 113, ruang naik bisa makin terbuka. Tapi kalau gagal bertahan di atas 100, potensi koreksi turun ke 97–95, lalu 92–90 jadi lebih besar.
Dari sisi fundamental, minyak masih ditopang risiko pasokan.Sementara konflik di sekitar Teluk masih mengganggu pasar energi. Beberapa media juga menulis bahwa sekitar 20% aliran minyak dan LNG global terkait dengan Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur itu tetap menjaga premi risiko tetap tinggi. Di sisi lain, kenaikan minyak juga mulai ditahan oleh rencana pelepasan lebih dari 400 juta barel stok darurat IEA dan upaya koalisi untuk membantu mengamankan pelayaran di Hormuz.
Jadi, base case : selama BCO bertahan di atas 100, bias masih bullish dengan target 106–108 lalu 110–113. Skenario koreksi baru lebih kuat kalau muncul tanda de-eskalasi geopolitik atau harga close harian di bawah 100. Kalau itu terjadi, pasar bisa masuk fase ambil untung lebih dalam ke 97–95.
DISCLAIMER
Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi.