Bessent Tegaskan The Fed Belum Buru-Buru Turunkan Suku Bunga
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Federal Reserve sebaiknya mengambil pendekatan “wait and see” sebelum menurunkan suku bunga, di tengah ketidakpastian yang masih dipicu perang Iran. Dalam wawancaranya dengan Semafor, Bessent menilai The Fed saat ini “doing the right thing by sitting and watching”, sembari memantau bagaimana konflik dan dampaknya terhadap inflasi berkembang.
Komentar ini penting karena datang di saat pasar sedang mencari petunjuk baru soal arah kebijakan moneter AS. Bessent mengatakan ia memang melihat suku bunga pada akhirnya bisa turun, tetapi bukan sekarang, sebab ekonomi AS pada awal 2026 masih terlihat kuat. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa lonjakan harga belakangan ini tidak akan otomatis tertanam permanen dalam ekspektasi inflasi.
Pernyataan tersebut muncul setelah data pemerintah AS menunjukkan inflasi Maret naik jauh lebih cepat dibanding Februari, dengan tekanan besar datang dari lonjakan biaya energi. Reuters melaporkan kenaikan harga minyak mentah global selama konflik telah mendorong harga konsumen dan membuat bensin serta diesel di AS naik di atas US$4 per galon. Kondisi ini membuat ruang bagi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih sempit.
Secara tidak langsung, komentar Bessent memperkuat narasi bahwa bank sentral AS kemungkinan masih akan berhati-hati. Ini juga sejalan dengan pandangan pasar yang belakangan makin ragu akan pemangkasan suku bunga cepat, terutama selama risiko inflasi energi belum benar-benar reda. Reuters juga melaporkan dolar AS cenderung stabil di tengah kombinasi blokade terhadap kapal Iran dan upaya diplomasi yang masih berjalan.
Bagi pasar, pesan utamanya cukup jelas: selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan inflasi belum benar-benar jinak, dorongan untuk rate cut akan tetap tertahan. Artinya, aset seperti dolar, obligasi, emas, dan saham berpotensi tetap bergerak sensitif terhadap komentar pejabat AS maupun perkembangan terbaru konflik Iran. Ini adalah sinyal bahwa pasar belum bisa terlalu agresif menaruh harapan pada pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Penyebab:
Bessent menilai The Fed perlu menunggu dan melihat perkembangan perang Iran sebelum memangkas suku bunga.
Ekonomi AS pada awal 2026 dinilai masih cukup kuat, sehingga belum ada urgensi besar untuk buru-buru menurunkan suku bunga.
Inflasi Maret melonjak lebih cepat, terutama akibat kenaikan biaya energi selama konflik.
Risiko inflasi energi membuat pasar khawatir ekspektasi rate cut akan kembali mundur.
Hal yang Harus Diperhatikan:
Apakah pejabat The Fed lain menggemakan nada wait and see seperti Bessent.
Reaksi DXY dan yield Treasury, karena komentar ini cenderung mendukung suku bunga tetap tinggi lebih lama. Itu adalah inferensi pasar dari sikap hati-hati terhadap rate cut.
Perkembangan harga minyak, karena energi masih jadi sumber tekanan inflasi paling nyata.
Update konflik dan diplomasi Iran, sebab ini akan sangat memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter AS.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id