The Fed Tambah Likuiditas, Benarkah AS Kembali Cetak Uang
Isu bahwa Amerika Serikat kembali “mencetak uang” mengemuka setelah Federal Reserve diketahui membeli Treasury bill sekitar US$40 miliar per bulan. Namun, langkah ini belum dapat disamakan dengan quantitative easing (QE) agresif seperti yang pernah dilakukan pada masa krisis. Pejabat Federal Reserve menjelaskan pembelian tersebut merupakan bagian dari reserve management purchases, yaitu langkah teknis untuk menjaga kecukupan likuiditas dan memastikan suku bunga pasar uang tetap bergerak sesuai target kebijakan moneter. Pejabat New York Fed Roberto Perli bahkan menyatakan laju pembelian ini kemungkinan akan mulai dimoderasi setelah 15 April 2026.
Langkah itu diambil setelah The Fed menjalankan quantitative tightening (QT) dalam waktu panjang yang membuat neracanya menyusut signifikan dari sekitar US$9 triliun menjadi di bawah US$7 triliun. Penyusutan tersebut mengurangi cadangan likuiditas di sistem perbankan, sehingga bank sentral perlu memastikan level reserve tetap cukup agar pasar uang tidak mengalami tekanan. Dengan kata lain, penyebab utama kebijakan ini bukan untuk memberi stimulus ekonomi baru, melainkan untuk menjaga stabilitas operasional sistem keuangan AS.
Dari sisi dampak, pembelian Treasury bill ini dapat membantu menjaga likuiditas pasar uang tetap longgar dan menahan gejolak pada suku bunga pendanaan jangka pendek, terutama saat ada kebutuhan kas musiman seperti periode pembayaran pajak. Kebijakan ini juga dapat meningkatkan kepercayaan pasar bahwa The Fed masih mampu menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa harus kembali ke skema pelonggaran besar-besaran. Meski demikian, pasar tetap sensitif terhadap setiap pembelian aset oleh bank sentral karena langkah tersebut mudah ditafsirkan sebagai sinyal pelonggaran moneter yang dapat memengaruhi persepsi terhadap arah dolar dan inflasi.
Di saat yang sama, perdebatan yang berkembang di sekitar The Fed justru lebih banyak mengarah pada bagaimana mengecilkan neraca lebih lanjut secara bertahap. Reuters melaporkan sejumlah pejabat dan ekonom menilai neraca The Fed yang masih berada di kisaran US$6,6 triliun–US$6,7 triliun tetap terlalu besar, sehingga ada pembahasan mengenai ruang penyusutan tambahan sekitar US$1 triliun hingga US$2 triliun jika kondisi pasar memungkinkan. Ini menunjukkan bahwa pembelian T-bill saat ini lebih condong sebagai penyesuaian teknis jangka pendek, bukan perubahan arah menuju ekspansi permanen.
Karena itu, penting untuk membedakan antara penambahan likuiditas teknis dan kebijakan cetak uang dalam arti klasik. Selama pembelian Treasury bill hanya dilakukan untuk menjaga reserve perbankan dan kelancaran pasar uang, kebijakan ini masih berada dalam koridor operasional normal bank sentral. Narasi bahwa AS “kembali mencetak uang” baru akan lebih relevan bila pembelian aset diperluas secara agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau menekan imbal hasil jangka panjang secara luas. Inferensi ini konsisten dengan penjelasan pejabat The Fed bahwa program saat ini berbeda tujuan dengan QE.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati apakah moderasi pembelian benar-benar dimulai setelah pertengahan April 2026, bagaimana respons pasar uang terhadap tambahan likuiditas, serta apakah agenda penyusutan neraca The Fed tetap berjalan sesuai rencana. Selama langkah ini tetap terbatas dan bersifat teknis, dampaknya kemungkinan lebih besar pada stabilitas pasar uang ketimbang memicu perubahan besar dalam arah kebijakan moneter AS.(CP)
Sumber: Newsmaker.id