AS-Iran Bahas Rencana Damai, Iran Tolak Buka Hormuz Jelang Ultimatum Trump
Amerika Serikat dan Iran pada Senin membahas garis besar rencana untuk mengakhiri konflik yang memasuki pekan kelima, tetapi Teheran menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz menjelang ultimatum baru Presiden AS Donald Trump. Pasar minyak merespons dengan sikap hati-hati; Brent turun 36 sen ke $108,67 per barel pada 1222 GMT karena investor menilai peluang gencatan senjata.
Sumber yang mengetahui proposal mengatakan rencana yang dimediasi Pakistan mengusulkan gencatan senjata segera, lalu negosiasi menuju penyelesaian yang lebih luas dalam 15–20 hari. Disebutkan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir melakukan kontak intensif semalaman dengan Wakil Presiden AS J.D. Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menlu Iran Abbas Araqchi. Namun seorang pejabat Gedung Putih mengatakan proposal itu “salah satu dari banyak ide” dan belum disetujui Trump, seraya menegaskan operasi AS “Epic Fury” masih berlanjut.
Iran menutup efektif Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel pada Februari, menjadikan jalur yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia sebagai kartu tawar utama. Pejabat senior Iran mengatakan negaranya tidak akan membuka kembali selat sebagai bagian dari gencatan senjata sementara, serta menolak tenggat waktu dan tekanan untuk mencapai kesepakatan; menurut pejabat itu Washington juga belum siap untuk gencatan senjata permanen.
Trump, melalui unggahan di Truth Social, mengancam serangan lanjutan terhadap infrastruktur Iran jika tidak ada kesepakatan dan Hormuz tidak dibuka kembali, dengan tenggat yang ia pertegas menjadi Selasa pukul 20.00 ET. Menurut Reuters, Trump juga dijadwalkan berbicara tentang proposal gencatan senjata pada konferensi pers pukul 1 siang ET. Dari Teheran, Kemlu Iran menyatakan telah merumuskan posisi dan tuntutan melalui perantara; juru bicara Esmaeil Baghaei mengatakan rincian respons akan diumumkan “pada waktunya” dan negosiasi tidak bergantung pada ultimatum.
Di lapangan, serangan udara baru dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi, dengan media pemerintah Iran melaporkan kematian kepala intelijen Garda Revolusi Majid Khademi yang diklaim Israel sebagai tanggung jawabnya. Seorang penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, menilai setiap penyelesaian harus menjamin akses melalui Hormuz. Pasar kini memantau kejelasan sikap Washington atas proposal Pakistan, respons resmi Iran, serta perkembangan tenggat Trump dan kondisi aktual lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi kunci risiko pasokan energi global.(gn)
Sumber: Newsmaker.id