Trump Main Dua Arah: Jalur Damai Dibuka, Minyak Iran Tetap Ditekan
Presiden Donald Trump menunjukkan sikap yang terkesan paradoks terhadap Iran: di satu sisi memberi ruang bagi perundingan damai, tetapi di sisi lain tetap membuka opsi untuk menguasai aset minyak Iran. Reuters melaporkan Trump menunda serangan ke fasilitas energi Iran selama 10 hari, hingga 6 April 2026, sambil mengatakan pembicaraan berjalan “sangat baik.” Namun pada saat yang sama, ia juga memberi sinyal bahwa minyak Iran bisa menjadi bagian dari tekanan strategis Washington. Situasi ini membuat pasar membaca kebijakan AS bukan sebagai pelunakan penuh, melainkan diplomasi yang tetap dibarengi ancaman.
Kesan “dua sisi mata uang” itu muncul karena jalur damai dan tekanan militer berjalan beriringan. AP melaporkan Pakistan sedang menyiapkan diri menjadi tuan rumah pembicaraan AS-Iran, tetapi Iran tetap memperingatkan bahwa invasi darat AS akan dibalas keras. Di saat yang sama, laporan Reuters dan AP menyebut konflik telah memasuki pekan kelima, dengan risiko meluas setelah Houthi yang didukung Iran ikut membuka front baru dan Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Artinya, peluang diplomasi memang ada, tetapi ketegangan riil di lapangan juga belum surut.
Dari sisi strategi, langkah Trump bisa dibaca sebagai pola “talk and pressure”: negosiasi tetap dibuka agar ada jalan keluar politik, tetapi tekanan tetap dipertahankan agar Iran tidak merasa memiliki posisi tawar yang terlalu kuat. Reuters melaporkan proposal AS mencakup tuntutan besar seperti pembatasan program nuklir, rudal, dan pengaruh regional Iran, sementara pasar energi juga terus diguncang oleh penutupan efektif Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak. Dalam konteks itu, wacana soal minyak Iran bukan sekadar komentar keras, melainkan bagian dari upaya menjaga leverage AS selama proses negosiasi belum mencapai titik jelas.
Dampaknya, pernyataan seperti ini membuat pasar global tetap bergerak waspada. Ketika diplomasi dibarengi ancaman baru terhadap aset energi, investor cenderung menilai risiko konflik belum benar-benar mereda. Reuters melaporkan Brent sudah melonjak tajam sepanjang Maret, sementara AP menyoroti meningkatnya kekhawatiran bahwa perang yang berlarut dapat menambah tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan global. Selama hasil perundingan belum jelas, harga minyak, dolar AS, dan aset berisiko kemungkinan masih akan sangat sensitif terhadap setiap komentar politik maupun perkembangan militer baru dari kawasan tersebut.
Penyebab:
Trump terlihat mengambil dua pendekatan sekaligus karena AS tampaknya ingin menjaga jalur diplomasi tetap hidup, tetapi tanpa melepas daya tekan strategis terhadap Iran. Negosiasi memang sedang diupayakan, termasuk melalui Pakistan, tetapi konflik di lapangan belum mereda dan ancaman terhadap jalur energi global masih besar. Itu sebabnya isu minyak Iran ikut dimainkan sebagai alat tawar, bukan hanya sebagai isu ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari tekanan geopolitik.
Dampak:
Sikap yang terbelah seperti ini membuat proses damai terlihat rapuh dan pasar tetap gelisah. Harga minyak bisa tetap tinggi karena risiko pasokan belum hilang, dolar AS cenderung bertahan kuat karena permintaan safe haven, dan pasar saham berpotensi tertekan oleh sentimen risk-off. Bagi investor, pesan yang muncul adalah negosiasi memang berjalan, tetapi ancaman eskalasi masih jauh dari selesai.(CP)
Sumber: Newsmaker.id