AS-Israel Tekan Kapabilitas Rudal Iran, Perang Drone Uji Ketahanan Pertahanan
Setelah lebih dari sepekan serangan, AS dan Israel tampak mempercepat upaya melumpuhkan mesin militer Iran melalui serangan ke ribuan target, menarget peluncur rudal, simpul komando, dan jaringan komunikasi. Perhitungan awal Human Rights Activists News Agency (HRANA) menyebut lebih dari 1.000 warga sipil tewas, sementara Iran terus membalas dengan drone dan rudal yang menyoroti kerentanan pertahanan koalisi.
Konflik ini, dalam banyak aspek, dibentuk oleh pelajaran dari perang singkat Juni 2025 yang melibatkan ketiga negara. Dana Stroul dari Washington Institute for Near East Policy mengatakan militer AS dan Israel menggunakan periode setelah “perang 12 hari” tahun lalu untuk menyerap pelajaran dan menyusun desain operasi gabungan yang kemudian menunggu arahan politik untuk dieksekusi.
Salah satu fokus utama kampanye adalah memutus kemampuan koordinasi serangan besar Iran dengan menghancurkan simpul komando dan peluncur rudal. Pejabat AS mengatakan lebih dari 90% peluncur rudal Teheran telah dihancurkan, yang menciptakan hambatan bagi kapasitas serangan rudal balistik Iran, sekaligus menegaskan bahwa awak peluncur lebih rentan dan lebih sulit diganti dibanding platform rudalnya.
AS dan Israel juga mengandalkan pendekatan mengurangi risiko serangan balasan dengan memindahkan personel dan peralatan keluar dari jangkauan, taktik yang digambarkan sebagai “menjauh dari X”. Bloomberg Economics memperkirakan Iran menembakkan lebih dari 650 rudal balistik dalam delapan hari pertama, namun banyak yang menghantam lapangan terbang kosong dan instalasi militer AS yang sudah banyak dikosongkan, seiring respons awal Iran yang disebut kurang terkoordinasi.
Di sisi lain, Iran dinilai beradaptasi dengan desentralisasi operasi, penyebaran peluncur, serta peningkatan penggunaan drone satu arah yang murah dan dapat diproduksi massal. Serangan drone memaksa AS menggunakan pencegat yang jauh lebih mahal, memperlihatkan dinamika biaya yang juga terlihat di Ukraina. Peneliti CNAS Stacie Pettyjohn menilai kampanye Iran menyoroti tantangan pertahanan “di mana-mana” ketika serangan dapat menarget puluhan lokasi sekaligus, sehingga kebutuhan skala pertahanan meningkat tajam.(alg)
Sumber: Newsmaker.id