Ultimatum Trump ke Iran, Rapat IAEA Jadi Titik Panas
Peringatan Presiden AS Donald Trump kepada Iran—bahwa Teheran hanya punya 10 hingga 15 hari untuk menghindari potensi aksi militer—muncul berbarengan dengan momen penting di jalur diplomasi nuklir. Dalam waktu dekat, badan pengawas nuklir PBB akan kembali berkumpul untuk menentukan langkah terhadap program nuklir Iran.
Dewan International Atomic Energy Agency (IAEA) dijadwalkan menggelar pertemuan pada 2 Maret di Wina selama lima hari. Para diplomat diperkirakan akan membahas kemungkinan resolusi kecaman baru terhadap Iran, yang bahkan dapat membuka jalan untuk rujukan ke Dewan Keamanan PBB guna tindakan lebih lanjut.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran pola lama terulang. Narasi yang beredar menyinggung kejadian bulan Juni, ketika Israel dilaporkan memulai serangan dalam 24 jam setelah dewan IAEA mengeluarkan kecaman atas kurangnya kerja sama Iran dengan pengawas nuklir. Pada saat itu, temuan IAEA juga dikutip pejabat AS sebagai bagian dari argumen pembenaran tindakan militer.
Sejumlah pengamat menilai keputusan atau hasil forum IAEA berpotensi menciptakan “celah” politik dan hukum bagi Washington untuk bertindak lebih keras. Tariq Rauf, mantan pejabat kebijakan verifikasi nuklir di IAEA, menyebut dinamika ini bisa memberi ruang bagi pemerintah AS untuk meningkatkan tekanan hingga mengarah pada agenda perubahan rezim—meski skenario ini masih menjadi perdebatan.
Di lapangan, AS disebut tengah mengumpulkan kekuatan di Timur Tengah sebagai opsi jika situasi memburuk. Trump menyampaikan bahwa AS “akan mendapatkan kesepakatan, atau itu akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka,” menegaskan tekanan diplomasi berjalan beriringan dengan kesiapan militer.
Di sisi lain, Tiongkok, Rusia, dan Iran mempublikasikan foto pertemuan langka bersama Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi, membahas kekhawatiran atas potensi penggunaan kekuatan. Grossi juga menekankan waktu yang tersisa makin sempit dan mengatakan ada upaya konkret yang sedang dikerjakan, sementara inspektur IAEA disebut belum memverifikasi status persediaan uranium Iran yang mendekati level bahan bom selama lebih dari delapan bulan.(alg)
Sumber: Newsmaker.id