Sinyal Perang Energi, Iran Batasi Hormuz di Tengah Negosiasi
Sebagian Selat Hormuz—salah satu jalur pengiriman minyak paling krusial di dunia—dilaporkan akan ditutup selama “beberapa jam” pada Selasa sebagai bagian dari latihan militer Iran. Berita itu langsung memicu reaksi pasar: harga minyak berbalik menguat, dengan Brent naik tipis 0,1% ke $68,74 per barel pada sekitar 11:22 waktu London. Televisi pemerintah Iran menegaskan jalur transit utama selat itu berada di bawah kendali Angkatan Laut IRGC, seraya menyebut Iran “tidak memiliki garis merah” dalam menjaga keamanan kawasan.
Ketegangan meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperkeras peringatan bahwa AS akan menanggung konsekuensi jika menyerang Iran—di tengah ancaman berulang dari Presiden Donald Trump bila perundingan gagal mencapai kesepakatan. Khamenei menyindir pengerahan kapal perang AS sebagai senjata berbahaya, tetapi menekankan ada “senjata yang lebih berbahaya” yang dapat menenggelamkannya, sebuah pernyataan yang mempertebal atmosfer konfrontasi saat pasar energi sedang sensitif terhadap risiko geopolitik.
Di saat bersamaan, Iran dan AS memulai putaran kedua pembicaraan nuklir di Jenewa, Swiss, yang dimediasi Oman, dan dilaporkan mulai sekitar 10:30 waktu setempat. Teheran menyatakan bersedia membahas aktivitas pengayaan uranium, namun mengaitkan konsesi apa pun dengan potensi pelonggaran sanksi. Menlu Iran Abbas Araghchi bertemu kepala IAEA sehari sebelumnya untuk membahas “proposal” yang akan dibawa ke meja perundingan, serta berkoordinasi dengan Menlu Oman Badr Albusaidi untuk menyampaikan posisi Iran kepada pihak AS.
Di lapangan, kedua pihak juga meningkatkan kehadiran militernya: AS disebut mengerahkan kapal induk kedua ke kawasan, sementara IRGC melanjutkan latihan di sekitar Hormuz dan berencana menambah peralatan guna memperkuat kapasitas militernya. Pasar kini membaca dua skenario sekaligus: potensi gangguan pasokan dari Teluk Persia atau peluang pelonggaran sanksi yang dapat membuka akses kembali minyak Iran ke pembeli. Dengan Brent telah naik hampir 13% sepanjang tahun ini di tengah memanasnya ketegangan, jalur diplomasi di Jenewa berjalan berdampingan dengan tekanan politik—termasuk dorongan Israel agar isu rudal balistik masuk pembahasan, serta pernyataan sejumlah politisi AS bahwa keputusan “diplomasi atau tindakan militer” bisa terjadi dalam hitungan minggu.(alg)
Sumber: Newsmaker.id