Tarif Baja-Aluminium 50% Terancam Dipersempit
Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan sedang menyiapkan langkah untuk mempersempit cakupan tarif 50% pada baja dan aluminium—terutama untuk kategori produk turunan (derivative products) yang selama ini bikin perusahaan pusing karena harus menghitung kandungan logam di tiap barang impor. Langkah ini dinilai bisa membantu pembicaraan dagang AS–Uni Eropa yang selama ini sensitif gara-gara daftar barang terkena tarif makin melebar.
Sumber yang mengetahui pembahasan menyebut tim perdagangan AS (USTR) sedang mencoba “merapikan” komplikasi yang muncul ketika daftar produk turunan diperluas, termasuk soal implementasi teknis di bea-cukai. USTR Jamieson Greer sebelumnya juga mengakui ada “kompleksitas” dan pemerintah ingin membuat kebijakan ini lebih mulus saat dijalankan di lapangan.
Kabar potensi penyesuaian ini langsung terasa ke pasar logam. Harga aluminium tercatat turun 1,36% pada 13 Februari 2026 menjadi sekitar US$3.055/ton, mencerminkan respons investor terhadap peluang aturan tarif yang lebih sempit (dan potensi perubahan arus pasokan/biaya).
Dari sisi politik-ekonomi, isu tarif juga makin disorot karena beberapa kajian dan pembahasan di Kongres menilai biaya tarif banyak “mendarat” ke konsumen dan bisnis AS, berlawanan dengan narasi bahwa eksportir asing yang menanggungnya. Jika tarif turunan benar-benar dipangkas atau dihentikan, itu bisa jadi “small win” untuk negosiasi AS–UE—apalagi Uni Eropa khawatir cakupan tarif logam yang terlalu luas bisa melemahkan kerangka kesepakatan dagang dan batas tarif yang pernah dibahas. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id