Kesepakatan Trump-Xi: Perjanjian Sementara di Tengah Persaingan Global
Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tiongkok Xi Jinping di Korea Selatan pada Kamis menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama setahun. Meskipun Trump menyebut pertemuan tersebut sebagai "sangat luar biasa," banyak pihak yang melihat kesepakatan ini lebih sebagai langkah untuk meredakan ketegangan sementara daripada solusi jangka panjang terhadap masalah ekonomi yang mendalam antara kedua negara. Kedua pihak lebih memilih untuk membeli waktu dan mengurangi ketergantungan satu sama lain di sektor-sektor strategis.
Kesepakatan tersebut melibatkan pengurangan tarif fentanyl dan perpanjangan gencatan senjata tarif timbal balik. Namun, tarif untuk banyak produk tetap berada pada level 47%, yang dianggap cukup rendah agar basis manufaktur Tiongkok tetap kompetitif di pasar global. Tiongkok juga berhasil mendapatkan pengesahan untuk menangguhkan aturan yang memperluas pembatasan terhadap perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS, serta kesepakatan tentang penjualan kedelai dan aliran bahan langka Tiongkok.
Meskipun demikian, kesepakatan ini tidak membawa perubahan struktural besar dalam hubungan perdagangan AS-Tiongkok yang timpang, yang telah dijanjikan Trump sejak awal. Bagi pasar, kesepakatan ini lebih dipandang sebagai jeda sementara dari eskalasi ketegangan yang telah berlangsung, bukan sebagai solusi jangka panjang dalam persaingan ekonomi yang semakin intens.
Menurut Robert Lighthizer, mantan negosiator perdagangan AS dengan Tiongkok, kesepakatan ini lebih mengarah pada "strategic decoupling" (pemisahan strategis), yang mungkin hanya bertahan selama beberapa bulan hingga tahun depan. Pasar, meskipun berharap akan hasil yang lebih konkret, tetap tidak terlalu terkesan dengan hasil pertemuan ini, karena mereka menginginkan pernyataan yang lebih jelas dan langkah nyata untuk mengatasi ketidakpastian perdagangan global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id