Deal Dagang Hampir Jadi? Bocoran dari Malaysia
Pertemuan dua hari di Malaysia minggu lalu antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan pejabat ekonomi top Tiongkok berakhir dengan satu hasil besar: kedua pihak bilang mereka sudah punya “kerangka kesepakatan” dagang. Intinya, AS dan Tiongkok sama-sama mau menurunkan tensi sebelum pertemuan langsung antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. Mereka sepakat secara prinsip di beberapa isu yang selama ini bikin panas hubungan dua negara, jadi sekarang tinggal dinaikkan ke level pemimpin untuk disahkan.
Salah satu poin paling penting: ancaman tarif 100% untuk barang-barang asal Tiongkok disebut sudah “tidak jadi diberlakukan.” Sebagai gantinya, Tiongkok siap menunda aturan pembatasan ekspor rare earth (mineral langka yang sangat penting buat industri teknologi seperti baterai, chip, kendaraan listrik) selama setahun sambil ditinjau ulang. AS juga menyebut Tiongkok bakal kembali membeli kedelai Amerika dalam jumlah besar. Ini langsung menyasar dua kepentingan Trump: industri teknologi AS dan petani AS.
Bukan cuma dagang barang. Dari sisi politik dan keamanan ekonomi, dua negara juga bicara soal TikTok, fentanyl, biaya pengapalan, dan kontrol ekspor teknologi. AS ingin TikTok versi Amerika lebih berada di bawah kontrol investor AS, sementara Tiongkok ingin pastikan akses teknologinya tetap aman. Selain itu, kedua pihak sepakat bahwa ancaman aksi balasan baru (tarif tambahan dari AS dan kontrol ekspor tambahan dari Tiongkok) sementara “diparkir,” supaya perang dagang tidak naik lagi. Ini membuat pasar global merasa sedikit lega.
Langkah selanjutnya: semua hasil awal ini akan dibawa ke meja Trump–Xi dalam pertemuan tingkat pimpinan, yang dijadwalkan pekan ini di Asia. Targetnya bukan cuma menenangkan hubungan dagang, tapi juga membuka pembicaraan yang lebih luas — termasuk kerja sama keamanan pasokan rare earth, stabilitas rantai pasok global, bahkan kemungkinan kerja bareng untuk isu geopolitik seperti perang di Ukraina. Kalau dua pemimpin ini sepakat, pasar akan baca ini sebagai sinyal “gencatan senjata dagang” baru antara dua ekonomi terbesar di dunia.(asd)
Sumber: Newsmaker.id