Trump Tunda Pertemuan dengan Putin, Solusi Perang Ukraina Belum Jelas
Pada hari Selasa, 21 Oktober 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia tidak akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam waktu dekat. Keputusan ini datang setelah sebelumnya Trump mengatakan akan segera bertemu dengan Putin di Hongaria. Trump menekankan bahwa ia tidak ingin mengadakan pertemuan yang "sia-sia" dan masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait konflik Ukraina.
Penundaan ini menunjukkan bahwa upaya Trump untuk mencapai gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia masih jauh dari tercapai. Meski Trump berupaya mendekati kedua negara tersebut, baik dalam pembicaraan dengan Putin maupun pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pihak-pihak yang terlibat masih jauh dari kesepakatan. Dalam sebuah pernyataan, Trump menegaskan bahwa ia ingin melihat perubahan signifikan di medan perang sebelum melanjutkan pembicaraan lebih lanjut.
Sementara itu, Rusia menolak seruan Trump untuk menghentikan pertempuran di garis depan Ukraina. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menyatakan bahwa gencatan senjata tanpa kesepakatan yang jelas hanya akan memberikan situasi dan mengarah pada pengabaian akar masalah, termasuk penolakan Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Lavrov juga menegaskan bahwa Rusia menginginkan lebih dari sekadar gencatan senjata—mereka menginginkan Ukraina untuk menyerahkan wilayahnya dan memastikan status non-NATO.
Di sisi lain, negara-negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, mendukung seruan Trump untuk gencatan senjata sementara, meskipun mereka meremehkan niat Rusia untuk benar-benar mengakhiri perang. Para pemimpin Eropa menilai bahwa Rusia lebih memilih kekerasan daripada perdamaian yang sejati, yang semakin menerima ketegangan global.
Dengan situasi yang masih belum jelas, Trump kini fokus pada strategi lain untuk menyelesaikan konflik ini, meskipun hubungan terus berubah-ubah. Sementara itu, Rusia terus menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah tertentu di Donbas, dengan harapan untuk menambah tekanan lebih lanjut di Kyiv. Saat ini, kedepannya akan terlihat apakah Trump dapat mendorong solusi yang lebih konkrit atau malah menghadapi jalan buntu yang lebih lama.(asd)
Sumber: Bloomberg