Kesepakatan AS-Iran Alami Kemajuan, Hormuz Masih Jadi Titik Risiko
AS dan Iran bersiap menandatangani kesepakatan perdamaian sementara, tetapi pasar energi masih menilai pemulihan Selat Hormuz belum sepenuhnya pasti. Detail kesepakatan mulai muncul, termasuk potensi keringanan sanksi yang memungkinkan Iran segera menjual minyak, sementara insentif keuangan lain akan diberikan secara bertahap.
Teks memorandum kesepahaman belum dipublikasikan. Dokumen tersebut diperkirakan membuka jalan bagi negosiasi selama dua bulan mengenai program nuklir Iran dan isu lain yang terkait dengan penyelesaian konflik. Seorang pejabat AS mengatakan teks lengkap dapat dirilis dalam dua hari ke depan sebelum seremoni penandatanganan di Bürgenstock, Swiss.
Wakil Presiden JD Vance diperkirakan memimpin delegasi AS, sementara Iran kemungkinan diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Presiden AS Donald Trump, yang berada di Prancis untuk KTT G7, menyebut kesepakatan itu sudah selesai dan menegaskan Washington tidak akan membayar reparasi perang atau langsung menginvestasikan dana di Iran.
Bagi pasar, isu utama bukan hanya penandatanganan, tetapi seberapa cepat Hormuz dapat kembali ke kondisi normal. Negara-negara Eropa seperti Prancis, Inggris, dan Italia siap membantu pembersihan ranjau jika diperlukan. Namun, mereka masih berhati-hati terhadap risiko keamanan kapal dan meragukan klaim bahwa jalur tersebut dapat sepenuhnya dibuka pada Jumat.
Draf kesepakatan menyebut AS dan mitra regionalnya dapat menyusun rencana pendanaan hingga $300 miliar untuk rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Iran. Iran menyatakan perang yang dimulai pada 28 Februari melalui pemboman AS-Israel telah menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari $250 miliar. Namun, AS tetap menekankan bahwa investasi dan akses pendanaan akan bergantung pada pembuktian komitmen Teheran.
Isu pembekuan dana juga menjadi bagian penting dari kesepakatan. Pejabat Iran menyebut memorandum tersebut dapat membuka akses terhadap puluhan miliar dolar dana yang dibekukan di sejumlah tempat, termasuk Qatar. Draf yang dilihat Bloomberg menyatakan dana itu akan dilepas dan tersedia penuh, tetapi tidak mencantumkan jadwal yang jelas.
Harga minyak telah turun tajam sejak Trump menyatakan kesepakatan hampir tercapai. Brent sempat naik tipis pada awal Rabu setelah turun sekitar 5% dan ditutup di bawah $79 per barel pada sesi sebelumnya. Selain faktor diplomasi, permintaan yang lebih rendah di China serta penggunaan cadangan minyak darurat oleh AS dan negara lain turut menekan harga.
Transmisi pasarnya jelas: jika Hormuz kembali beroperasi dan ekspor Iran meningkat, risiko pasokan energi dapat mereda, harga minyak berpotensi lebih terkendali, dan tekanan inflasi dari sisi energi ikut menurun. Namun, jika pembukaan jalur berlangsung lambat atau Iran menerapkan biaya navigasi setelah periode negosiasi 60 hari, premi risiko energi dapat kembali meningkat.
Tehran telah memberi sinyal akan mengenakan biaya navigasi kepada kapal setelah periode pembicaraan baru berakhir. Trump menyatakan Hormuz akan terbuka secara permanen tanpa biaya, sementara pejabat AS sebelumnya mengatakan status jalur tersebut setelah 60 hari masih akan dibahas. Perbedaan ini menunjukkan bahwa detail operasional kesepakatan masih menjadi sumber risiko.
Kesepakatan juga akan bergantung pada mekanisme verifikasi. Vance mengatakan perjanjian tersebut akan dibangun di sekitar sistem pengawasan untuk memastikan Iran memenuhi komitmennya. Di sisi politik domestik AS, sejumlah anggota Senat dari Partai Republik meminta rincian lebih lanjut dan memberi sinyal bahwa Kongres pada akhirnya akan melakukan pemungutan suara atas kesepakatan final.
Risiko lain datang dari konflik Israel dengan Hezbollah di Lebanon. Memorandum diperkirakan mencantumkan perlunya gencatan senjata di semua front, termasuk Lebanon. Namun, sejumlah politisi Israel masih menyerukan kelanjutan operasi melawan Hezbollah, yang telah meluncurkan rudal dan drone ke Israel sebagai dukungan terhadap Iran.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada publikasi teks memorandum, mekanisme pembukaan Hormuz, jadwal keringanan sanksi, akses dana beku Iran, serta posisi Israel dan Hezbollah di Lebanon. Selama detail tersebut belum jelas, kesepakatan AS-Iran dapat meredakan risiko jangka pendek, tetapi belum sepenuhnya menghapus ketidakpastian geopolitik dan energi global.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id