AS Mulai Blokade Hormuz, Pasar Kembali Reprice Risiko Energi
Amerika Serikat pada Senin (13/4) mulai memblokir kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz, memperketat tekanan terhadap Iran setelah perundingan damai akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan. Langkah ini langsung memicu pergeseran sentimen pasar, dengan saham AS melemah dan harga minyak menguat menjelang implementasi blokade.
Presiden Donald Trump menyatakan rencana itu sebagai respons atas penolakan Iran menghentikan ambisi nuklir dan menuding Teheran melakukan “world extortion” lewat pembatasan lalu lintas di selat tersebut. Trump menyebut blokade berlaku untuk “setiap kapal” yang mencoba masuk atau keluar Hormuz, dimulai pukul 10.00 ET. Namun, US Central Command menambahkan klausul bahwa pasukan AS tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal yang melintasi Hormuz menuju atau dari pelabuhan non-Iran, yang mengindikasikan fokus utama pada arus terkait pelabuhan Iran.
Washington juga menyebut negara lain akan “terlibat” dalam operasi ini, tetapi sebagian sekutu AS—termasuk anggota NATO Inggris dan Prancis—sudah menyatakan tidak akan ikut. Dari Teheran, pejabat Iran merespons dengan nada menantang dan memperingatkan blokade AS berisiko mendorong harga energi global lebih tinggi.
Langkah blokade ini datang ketika gencatan senjata AS–Iran yang rapuh belum resmi dibatalkan, tetapi makin terkikis oleh saling tuding pelanggaran. Gencatan senjata disepakati pekan lalu setelah Trump mengeluarkan ultimatum. Harapan tercapainya kesepakatan sempat menguat ketika tim negosiasi AS—termasuk Wakil Presiden JD Vance—terbang ke Islamabad untuk pembicaraan damai, namun Vance mengatakan delegasi AS pulang tanpa hasil; setelah 21 jam negosiasi, Iran masih menolak komitmen untuk tidak mengejar atau mengembangkan senjata nuklir.
Pasar kini memantau detail teknis penegakan blokade dan ruang lingkup operasinya, respons Iran terhadap arus pelayaran dan infrastruktur maritim, serta apakah jalur diplomasi bisa dibuka kembali di tengah risiko eskalasi yang dapat memperpanjang volatilitas harga energi. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id