AS Siap Blokade, Iran Balas Ancam Target Pelabuhan
Iran menyatakan akan menargetkan seluruh pelabuhan dan di dekat Teluk Persia jika pusat pelayarannya sendiri terancam, memperkeras konfrontasi seputar Selat Hormuz setelah AS mengumumkan rencana blokade terhadap kapal-kapal yang terkait Teheran. Dalam pernyataan yang dikutip IRIB News pada Senin (13/4), Angkatan Bersenjata Iran mengatakan keamanan pelabuhan di kawasan “untuk semua atau untuk tidak seorang pun,” serta menyebut ancaman AS memblokir selat sebagai “aksi pembajakan”.
Pernyataan tersebut mempertegas strategi Iran untuk mempertahankan kontrol atas jalur maritim yang menjadi simpul utama aliran energi global—sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia biasanya melewati Hormuz. Iran memberi sinyal siap melanjutkan serangan terhadap pelabuhan negara-negara Arab Teluk jika AS menindaklanjuti rencananya memblokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar hub pelayaran Iran mulai pukul 10.00 waktu New York pada Senin.
Ketegangan ini muncul setelah perundingan langsung AS–Iran pada akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Minggu malam ia “tidak peduli” apakah Teheran kembali ke meja perundingan, lalu mengumumkan blokade sebagai respons atas gagalnya kesepakatan di Pakistan. Trump juga mengancam akan melanjutkan serangan militer AS jika ada perlawanan Iran, termasuk peringatan bahwa kapal yang “damai” pun bisa menjadi pemicu respons keras jika ditembak.
Hormuz telah menjadi titik pusat konflik lebih dari enam pekan antara aliansi AS–Israel dan Iran, setelah penutupan efektif jalur ini sejak perang dimulai mengguncang pasar energi. Meski sempat ada gencatan senjata dua pekan yang disepakati pada 7 April, perkembangan terbaru menandakan eskalasi kembali, termasuk risiko melebar ke jaringan pelabuhan dan terminal di Teluk.
Pasar energi merespons cepat. Setelah pengumuman Trump, harga minyak dan gas melonjak: Brent sempat naik hingga sekitar US$104 per barel pada Senin, sementara kontrak gas alam Eropa sempat melonjak hingga 18%. Kondisi ini memicu perburuan kargo minyak yang siap kirim di tengah keketatan pasar fisik. Di sisi geopolitik, blokade juga berpotensi menambah gesekan AS–China mengingat China disebut membeli hampir seluruh minyak Iran.
Ke depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada detail teknis penegakan blokade, respons Iran terhadap lalu lintas pelayaran dan pelabuhan di Teluk, dampak terhadap arus fisik minyak/LNG, serta arah harga energi dan ekspektasi inflasi global yang kembali sensitif terhadap headline Hormuz. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id