Perundingan AS–Iran Buntu, Risiko Hormuz Kembali Naik
Perundingan langsung tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu, 12 April 2026, setelah sekitar 21 jam pembahasan. Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Pakistan bertindak sebagai tuan rumah sekaligus mediator di tengah gencatan senjata regional yang masih rapuh.
Pembicaraan itu terjadi karena kedua pihak berupaya menahan eskalasi pascakonflik beberapa pekan terakhir, dengan perhatian pasar tertuju pada keamanan jalur energi. Lokasi pertemuan di Islamabad dipilih untuk memfasilitasi kanal komunikasi langsung, namun hasilnya masih sebatas “jeda” tanpa terobosan.
Isu utama yang dibahas adalah program nuklir Iran, termasuk tuntutan AS agar Iran menghentikan langkah-langkah yang dinilai membuka jalan menuju senjata nuklir serta menerima pengawasan yang lebih ketat. Vance menyatakan kebuntuan muncul karena Iran tidak bersedia memberikan komitmen yang diminta AS, sementara pihak Iran menilai posisi Washington terlalu maksimalis dan tidak membangun kepercayaan.
Topik besar lain adalah Selat Hormuz dan kelancaran pelayaran, yang dipandang krusial bagi stabilitas pasokan energi global. Iran disebut mengajukan tuntutan seperti pelepasan aset yang dibekukan dan kompensasi atas serangan, sedangkan AS mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran serta pembatasan nuklir sebagai prasyarat.
Setelah perundingan gagal, Washington merespons dengan langkah pengetatan maritim terhadap Iran, termasuk rencana blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang diumumkan akan mulai diberlakukan pada Senin. Ini menambah risiko eskalasi, meski beberapa pihak internasional mendorong gencatan senjata diperpanjang dan dialog dilanjutkan.
Ke depan, dampaknya ke pasar cenderung lewat kanal “risk premium” geopolitik. Risiko gangguan pelayaran di sekitar Hormuz biasanya menopang harga minyak karena pasar menilai pasokan lebih rentan, sementara emas berpotensi mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat. Dolar AS bisa bergerak dua arah: menguat bila permintaan aset aman dominan, atau melemah bila pasar fokus pada biaya ekonomi konflik dan volatilitas kebijakan, sehingga pelaku pasar akan memantau sinyal lanjutan soal perpanjangan gencatan senjata, kebijakan maritim AS, dan arah negosiasi nuklir.(asd)
Sumber: Newsmaker.id