Blokade Hormuz Trump Tekan Asia, Risiko Inflasi Energi Kembali Naik
Langkah Presiden AS Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz berisiko memperdalam tekanan ekonomi bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk sekutu Washington di kawasan dan China. Pasar menilai kebijakan ini menghidupkan kembali skenario harga energi lebih tinggi, inflasi yang lebih panas, serta perlambatan pertumbuhan.
Bloomberg Economics menilai perkembangan terbaru menggeser fokus pasar ke risiko penurunan (downside risks) bagi ekonomi global. Dampaknya terlihat cepat di pasar energi: Brent melonjak hingga 8,6% pada Senin (13/04) ke atas US$103 per barel, sementara kontrak gas alam Eropa sempat melonjak hampir 18% di awal perdagangan.
US Central Command menyatakan blokade mulai diberlakukan Senin pukul 10.00 waktu New York dan hanya berlaku untuk kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran. Pengumuman itu muncul beberapa jam setelah AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan dalam pembicaraan langsung di Pakistan, memperbesar ketidakpastian atas jalur diplomasi.
Bagi Asia, tekanan paling besar datang dari ketergantungan pasokan yang melewati Hormuz. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan disebut menggunakan lebih dari 80% energi yang biasanya melintasi selat tersebut. Pemerintah di kawasan kini bergerak mencari pasokan alternatif minyak dan gas, melakukan penghematan konsumsi energi, serta menyiapkan langkah untuk meredam dampak ke rumah tangga dan dunia usaha.
Blokade juga berpotensi menyasar kapal-kapal terkait Iran serta kapal dari negara lain, termasuk China, yang sebelumnya tetap melintasi jalur tersebut. Dengan rencana kunjungan Trump ke China pada pertengahan Mei, Beijing dapat mempertimbangkan menekan Washington agar mencabut blokade. Bloomberg Economics menilai salah satu opsi tekanan adalah memanfaatkan dominasi China di rantai pasok mineral kritis bila diperlukan.
Ke depan, pasar akan memantau efektivitas dan cakupan penegakan blokade, respons Iran, serta seberapa cepat negara-negara Asia mendapatkan sumber pasokan pengganti. Arah harga minyak akan menjadi kanal transmisi utama ke inflasi dan ekspektasi suku bunga, yang pada akhirnya ikut menentukan sentimen risiko di saham dan mata uang Asia.
5 Poin Inti:
- Blokade Hormuz oleh Trump meningkatkan risiko ekonomi bagi Asia yang bergantung impor energi.
- Brent melonjak hingga 8,6% ke atas US$103; gas Eropa sempat naik hampir 18%.
- CENTCOM: blokade mulai Senin 10.00 waktu New York, terbatas kapal masuk/keluar pelabuhan Iran.
- Jepang dan Korea Selatan memakai >80% energi yang biasanya transit Hormuz; pemerintah cari pasokan alternatif.
- China berpotensi menekan AS jelang kunjungan Trump pertengahan Mei, termasuk lewat isu mineral kritis. (asd)
Sumber: Newsmaker.id