Hormuz Masih Terblokir, Ratusan Kapal Antre Keluar di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Selat Hormuz masih sebagian besar terblokir pada Rabu (8/3), ketika pemilik kapal mencoba memastikan apakah mereka dapat melintasi jalur vital itu dengan aman setelah gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran diumumkan semalam. Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan hanya tiga kapal yang teramati meninggalkan kawasan pada Rabu. Beberapa di antaranya memiliki keterkaitan dengan Iran, dan media Iran kemudian melaporkan bahwa akses bagi kapal tanker tetap diblokir setelah serangan terhadap Lebanon. Dalam kondisi normal, sekitar 135 kapal melintas per hari, sementara lebih dari 800 kapal kargo kini terjebak di dalam Teluk, sebagian besar menunggu kesempatan untuk keluar.
Meski kelompok pemilik kapal dan asuransi menyambut gencatan senjata, mereka menilai rincian tambahan dibutuhkan untuk memastikan apakah pelayaran aman benar-benar memungkinkan. Iran menyatakan prasyarat gencatan senjata adalah koordinasi navigasi oleh angkatan bersenjatanya melalui jalur yang merupakan kanal minyak terpenting dunia. Teheran juga disebut mengenakan pungutan hingga US$2 juta per perjalanan bagi sebagian operator. “Waktu yang akan menentukan apakah ini jeda atau perdamaian, tetapi untuk saat ini sangat kecil kemungkinan perdagangan ke Teluk langsung pulih,” kata Neil Roberts, head of marine and aviation di Lloyd’s Market Association. Ia menambahkan bahwa kawasan tetap berisiko tinggi karena akar ketegangan belum terselesaikan.
Pada Rabu pagi, kapal-kapal terlihat berkelompok di kedua sisi Hormuz, termasuk di sekitar Dubai di Teluk Persia dan Khor Fakkan di Teluk Oman. Awak salah satu kapal melaporkan mendengar peringatan dari Iran bahwa pelayaran melalui selat masih memerlukan izin dari Republik Islam, menurut sumber yang mengetahui informasi tersebut, menegaskan ketidakpastian yang dihadapi pemilik kapal. Bahkan sebelum laporan Fars yang semi-resmi menyebut tanker masih diblokir, pemilik kapal menyatakan belum jelas bagaimana mekanisme lintas akan berjalan dalam praktik.
Sejumlah perusahaan pelayaran besar menyampaikan sikap hati-hati. A.P. Moller-Maersk menyebut jeda ini “mungkin menciptakan peluang transit, tetapi belum memberikan kepastian maritim penuh.” Nippon Yusen dari Jepang mengatakan pihaknya memantau situasi, sementara Hapag-Lloyd menyatakan akan tetap menghindari Hormuz untuk sementara meski menilai gencatan senjata sebagai perkembangan positif. Bimco, asosiasi pelayaran yang anggotanya mengendalikan hampir dua pertiga kapasitas angkutan laut global, juga menunggu detail rencana navigasi aman dari AS dan Iran. “Meninggalkan Teluk Persia tanpa koordinasi sebelumnya dengan AS dan Iran akan meningkatkan risiko dan tidak disarankan,” kata Jakob Larsen, chief safety and security officer Bimco.
Kecepatan pemulihan arus akan menentukan arah harga komoditas global. Selat Hormuz menyalurkan sekitar seperlima minyak dan LNG dunia, dan praktis “nyaris tertutup” sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari membuat Iran memperketat kontrolnya, memicu krisis pasokan minyak yang belum pernah terjadi. Sepanjang konflik, alasan keselamatan awak menjadi faktor utama pemilik kapal enggan melintas. Pemilik kapal, broker, dan asuransi juga menyoroti adanya beberapa versi rencana damai Iran yang dinilai berbeda-beda sebagai sumber kebingungan.
Iran mengatakan telah menyetujui dua minggu pelayaran aman melalui koordinasi dengan angkatan bersenjatanya dan dalam “keterbatasan teknis.” Sebaliknya, Trump mengumumkan “PEMBUKAAN SEPENUHNYA, SEGERA, dan AMAN,” dan dalam unggahan lain menyebut AS akan “membantu penumpukan lalu lintas” dan “tetap berada di sekitar” untuk memastikan kelancaran arus—opsi yang dinilai kecil kemungkinan diterima Teheran. “Anda tidak bisa menyalakan kembali arus pelayaran global dalam 24 jam,” kata Jennifer Parker, adjunct professor di University of Western Australia Defence and Security Institute. Menurutnya, pemilik tanker, penanggung, dan awak perlu percaya bahwa risiko benar-benar turun, bukan sekadar “dijeda.”
Data Kpler menunjukkan kapal pengangkut energi merupakan bagian besar dari armada yang tertahan di Teluk: 426 tanker minyak mentah dan produk bersih, 34 kapal LPG, serta 19 kapal LNG. Sisanya membawa komoditas kering seperti produk pertanian atau logam, maupun kontainer. Hingga Rabu pagi, lebih dari 1.000 kapal menunggu di kedua sisi selat, terkonsentrasi di sekitar Dubai dan Khor Fakkan. Dua kapal pengangkut komoditas curah, setidaknya satu di antaranya pernah singgah di Iran, tercatat menyeberangi Hormuz pada Rabu, dengan salah satunya melintas di antara Pulau Larak dan Qeshm—wilayah yang oleh industri pelayaran dijuluki “pos pungutan” Iran. Kpler juga mengindikasikan sebuah tanker minyak yang terkena sanksi AS, Tour 2 berbendera Iran, kemungkinan turut menyeberang.
“Bagus melihat pasar bereaksi seperti sekarang, tetapi ini hari pertama gencatan senjata yang masih tentatif,” kata Michael Pregent, mantan penasihat intelijen AS, kepada Bloomberg Television. Ia menilai rezim kemungkinan akan mengontrol siapa yang boleh melintas, siapa yang dikenai biaya, dan siapa yang ditolak. Pergerakan kapal LNG akan diawasi ketat karena sejak perang dimulai tidak ada kapal bermuatan yang berhasil melintasi selat, dan upaya transit terbaru oleh dua tanker berakhir dengan putar balik di menit terakhir. Sekitar 20% lalu lintas LNG global melewati Hormuz tahun lalu.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat pada akhir Maret sekitar 20.000 pelaut sipil terjebak di kapal-kapal yang tertahan, termasuk kapal utilitas dan pendukung. PBB memperingatkan para awak menghadapi pasokan yang menipis, kelelahan, dan tekanan psikologis. IMO menyatakan menyambut kesepakatan gencatan senjata. Sekjen IMO Arsenio Dominguez mengatakan ia bekerja dengan pihak-pihak terkait untuk menerapkan mekanisme yang tepat guna memastikan transit aman di Selat Hormuz, dengan prioritas memastikan proses evakuasi yang menjamin keselamatan navigasi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id