Konsumen AS Makin Pesimis, Sinyal Resesi Muncul Lagi?
Kepercayaan konsumen AS kembali melemah di Januari dan jatuh ke titik terendah dalam lebih dari satu dekade, menandakan rumah tangga makin pesimistis melihat arah ekonomi dan peluang kerja. Indeks keyakinan versi Conference Board yang dirilis pada hari Selasa (27/1) turun ke 84,5 dari 94,2 bulan sebelumnya, menjadi level terlemah sejak Mei 2014 dan juga lebih rendah dari seluruh proyeksi ekonom dalam survei.
Penurunan ini bukan cuma soal perasaan. Indeks ekspektasi 6 bulan ke depan ikut turun, sementara penilaian terhadap kondisi saat ini merosot ke level terendah dalam hampir lima tahun. Setelah sempat membaik tipis di Desember, sentimen balik melemah karena kekhawatiran harga masih tinggi dan laju penciptaan kerja terasa makin lambat. Banyak ekonom memperkirakan pasar kerja tahun ini cenderung “datar”: lowongan tidak selincah tahun lalu, tetapi belum mengarah ke gelombang PHK besar-besaran.
Di catatan responden, tema yang paling sering muncul adalah biaya hidup—mulai dari harga minyak dan bensin, sampai bahan makanan. Isu politik, pasar kerja, dan asuransi kesehatan juga lebih sering disebut. Indikator pasar kerja dalam survei ini ikut menguning: porsi konsumen yang bilang “pekerjaan sulit didapat” naik ke level tertinggi sejak awal 2021, sedangkan yang merasa “pekerjaan berlimpah” turun. Selisih keduanya—ukuran yang sering dipakai untuk membaca kekuatan pasar kerja—menyempit ke titik terburuk dalam beberapa tahun.
Menariknya, gambarnya tidak sepenuhnya seragam. Survei sentimen terpisah dari Universitas Michigan justru naik ke level tertinggi lima bulan di Januari, karena sebagian warga merasa kondisi ekonomi dan keuangan pribadi mereka lebih baik. Artinya, di level publik ada dua cerita: tekanan biaya hidup masih terasa, tapi sebagian orang mulai melihat harapan—meski data Conference Board menunjukkan rasa percaya diri tetap sedang rapuh. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id