Minyak Melonjak, Serangan ke Aset Energi Tingkatkan Kekhawatiran Pasokan
Harga minyak menguat setelah serangkaian serangan menyasar beberapa fasilitas energi paling penting di Timur Tengah, memicu kekhawatiran dampak konflik yang hampir memasuki pekan ketiga akan semakin parah. Lonjakan terbaru menegaskan pasar mulai kembali mem-price-in risiko gangguan pasokan yang lebih besar, bukan hanya pada jalur pengiriman, tetapi juga pada fasilitas produksi dan ekspor energi.
Minyak acuan global Brent sempat naik hingga sekitar 3,4% dan menyentuh $111,02 per barel, sementara kontrak paling aktif WTI berada di kisaran $98. Gas alam AS juga melonjak hingga sekitar 5,6%. Iran dilaporkan menyerang salah satu lokasi LNG utama di Qatar, bagian dari janji Teheran untuk menarget aset energi regional setelah serangan terhadap ladang gas raksasa Iran, South Pars, dan fasilitas terkait.
Harga minyak telah melonjak sekitar 50% sejak perang dimulai, ketika konflik menimbulkan kekacauan di kawasan, membuat Selat Hormuz tersendat untuk pelayaran dan memangkas sebagian produksi minyak dan gas. Namun sebelumnya, industri hulu energi Iran relatif “lebih aman” dari serangan langsung, sehingga menahan potensi eskalasi yang dapat memukul suplai jangka panjang. Situasi berubah ketika serangan mulai menyentuh infrastruktur energi lintas negara, meningkatkan risiko kerusakan fisik yang bisa memperlambat normalisasi pasokan bahkan setelah konflik mereda.
Harga minyak pada saat analisis ini di rilis berada pada level : $ 107.50
- Beli jika harga bergerak di bawah $ 106.50
- Jual jika harga bergerak di bawah $ 108.00
Resistensi 2: $ 109.83
Resistensi 1: $ 108.48
Support 1: $ 106.07
Support 2: $1 05.01
Perhatian : Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap mempengaruhi pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.
Sumber: Newsmaker.id