
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Pasar saham Amerika Serikat mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (23/9) setelah kenaikan imbal hasil Treasury kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dari Federal Reserve. Indeks S&P 500 turun 0,75% ke level 7.706,03, Nasdaq Composite melemah 1,13% menjadi 26.936,04, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,68% atau 352 poin ke 51.511,59.
Tekanan utama datang dari lonjakan yield obligasi pemerintah AS setelah data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas bisnis masih sangat kuat. Yield Treasury 10 tahun naik hingga 5,135%, level tertinggi sejak Juli 2007, sementara yield Treasury 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Mei 2024. Kenaikan imbal hasil membuat saham, terutama sektor yang sensitif terhadap suku bunga, mengalami tekanan karena biaya pendanaan diperkirakan tetap tinggi.
Data S&P Global PMI yang menunjukkan ekspansi ekonomi lebih kuat dari perkiraan memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih bertahan. Investor mulai meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed belum akan menghentikan kebijakan pengetatan, dengan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Oktober meningkat menjadi lebih dari 66% berdasarkan CME FedWatch Tool.
Sentimen tersebut juga diperkuat oleh komentar pejabat The Fed. Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan penyesuaian kebijakan tambahan kemungkinan masih diperlukan karena inflasi masih berada di atas target 2%, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja mulai berkurang.
Di sisi lain, kenaikan harga energi kembali menjadi perhatian pasar. Brent crude naik sekitar 3,9% ke US$103,08 per barel, sementara WTI menguat 1,8% ke US$92,16 per barel. Kenaikan minyak terjadi setelah investor kembali mencermati perkembangan hubungan AS-Iran dan ketidakpastian terkait stabilitas pasokan energi global.
Meskipun saham teknologi sebelumnya mencatat rekor baru, pasar kini menghadapi tekanan dari kombinasi yield tinggi, inflasi yang belum mereda, dan peluang kenaikan suku bunga tambahan. Investor akan terus memantau perkembangan kebijakan The Fed serta dinamika geopolitik Timur Tengah yang masih menjadi faktor utama pergerakan pasar.
Analisis Newsmaker: Pergerakan Wall Street saat ini menunjukkan pasar mulai melakukan penyesuaian terhadap kemungkinan suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama. Selama yield Treasury tetap meningkat dan tekanan inflasi belum mereda, saham berpotensi menghadapi volatilitas lebih tinggi, meskipun fundamental ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. (arl)
Sumber : Newsmaker.id