
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Asia mengawali perdagangan Senin (12/10) dengan pergerakan hati-hati menjelang dimulainya musim laporan keuangan perusahaan. Investor mulai mempertanyakan tingginya valuasi saham teknologi di tengah meningkatnya biaya pendanaan, sementara harga minyak bergerak fluktuatif akibat ketegangan di kawasan Teluk dan serangan terhadap kapal serta fasilitas energi.
Saham Korea Selatan turun sekitar 1,1%, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang bergerak relatif stabil. Perdagangan berlangsung lebih tipis karena pasar Jepang tutup dan aktivitas di AS terbatas menjelang laporan keuangan sejumlah bank besar yang akan dimulai Selasa. Di sisi lain, futures S&P 500 naik sekitar 0,2% dan Nasdaq futures menguat 0,5%, menunjukkan investor masih memiliki minat terhadap saham AS meski tetap berhati-hati.
Perhatian utama pasar tertuju pada sektor teknologi dan investasi kecerdasan buatan (AI). Laporan keuangan kuartal ketiga S&P 500 diperkirakan tumbuh lebih dari 30% secara tahunan, tetapi sebagian besar pertumbuhan tersebut berasal dari sektor teknologi. Investor mulai mempertanyakan apakah pendapatan perusahaan AI mampu mengimbangi kebutuhan investasi yang besar serta meningkatnya biaya pinjaman, terutama ketika perusahaan semakin banyak menerbitkan utang untuk membiayai ekspansi infrastruktur AI.
Sementara itu, pasar juga menghadapi risiko inflasi dari kenaikan harga energi. Brent turun sekitar 1,1%, sedangkan WTI melemah sekitar 1,2% pada perdagangan awal. Namun, harga minyak masih berada di level tinggi karena risiko terhadap pengiriman energi di Timur Tengah. Investor juga mencermati ketidakjelasan terkait klaim Presiden Donald Trump mengenai gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina, yang hingga kini belum dikonfirmasi secara jelas oleh kedua pihak.
Newsmaker melihat, fokus pasar pekan ini akan tertuju pada kombinasi laporan keuangan, inflasi AS, dan arah suku bunga The Fed. Data CPI AS diperkirakan menunjukkan kenaikan inflasi headline akibat tingginya harga energi, sementara inflasi inti diproyeksikan lebih moderat. Jika inflasi kembali menguat dan yield Treasury naik, saham teknologi berpotensi menghadapi tekanan lanjutan karena valuasinya sangat sensitif terhadap biaya pendanaan.