
Trending

hang-seng
Sumber: Newsmaker.id
Saham Hong Kong bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (12/10), dengan Indeks Hang Seng naik sekitar 0,2%, meskipun pasar saham China daratan mengalami tekanan. Investor masih berhati-hati menghadapi kenaikan suku bunga global dan ketegangan perdagangan, sementara langkah dukungan Beijing terhadap pasar belum mampu sepenuhnya memulihkan kepercayaan investor.
Di China daratan, CSI300 turun sekitar 0,7% ke level penutupan terendah dalam 13 bulan, sementara Shanghai Composite melemah 0,4%. Sentimen juga tertekan setelah Amerika Serikat membuka penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan teknologi China, termasuk Luxshare Precision dan Foxconn Industrial Internet. Saham Foxconn anjlok sekitar 7%, sedangkan Luxshare turun 3%.
Pergerakan pasar Hong Kong relatif lebih baik karena saham perbankan dan asuransi menguat, meskipun sektor chip dan kecerdasan buatan (AI) masih berada di bawah tekanan. Investor juga belum banyak merespons langkah regulator China yang kembali berdiskusi dengan pelaku pasar mengenai penguatan pasar modal maupun rancangan aturan yang akan mempermudah pendirian reksa dana saham.
Dari sisi eksternal, kenaikan yield obligasi global menjadi salah satu kekhawatiran utama investor. Harga minyak yang masih berada di atas US$100 per barel akibat konflik Timur Tengah meningkatkan risiko inflasi dan dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Di saat yang sama, meningkatnya ketegangan perdagangan juga mengancam ekspor China yang selama ini menjadi salah satu penopang penting perekonomian.
Newsmaker melihat, penguatan tipis Hang Seng belum cukup untuk menunjukkan perubahan tren yang kuat. Saham Hong Kong masih menghadapi tekanan dari yield global, harga minyak, serta ketidakpastian perdagangan dan sektor teknologi. Namun, jika Beijing semakin agresif memberikan stimulus dan tekanan global mulai mereda, Hang Seng berpotensi mendapatkan ruang untuk rebound. Untuk saat ini, investor masih cenderung memilih saham finansial dibandingkan sektor teknologi yang lebih sensitif terhadap sentimen global.
Sumber: Newsmaker.id