
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS bergerak melemah pada perdagangan Senin (19/10), dengan DXY terbaru berada di level 101,500, setelah gagal mempertahankan penguatan di awal sesi. Pelemahan terjadi di tengah kenaikan yield obligasi Prancis dan meningkatnya ketegangan sosial akibat kenaikan biaya hidup. Meski kondisi tersebut sempat meningkatkan daya tarik dolar sebagai aset safe haven, penguatan greenback kembali tertahan oleh tekanan pada saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di perdagangan Asia, DXY sebelumnya sempat menguat hingga sekitar 102,01 sebelum kembali turun. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun terus meningkat dan mendekati level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Gejolak sosial di Prancis juga meluas ke sejumlah kota Eropa lainnya, meningkatkan perhatian investor terhadap stabilitas ekonomi dan politik kawasan.
Namun, dolar belum mampu memanfaatkan sepenuhnya sentimen risk-off tersebut karena kekhawatiran terhadap sektor AI masih membebani aset AS. Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan siklus investasi AI, terutama setelah valuasi saham teknologi dan kebutuhan pembiayaan sektor tersebut menjadi sorotan.
Investasi terkait AI selama ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi, saham, yield, dan dolar AS. Namun, kondisi tersebut juga menjadi kerentanan baru bagi greenback. Jika siklus investasi AI mulai melambat, dukungan terhadap pertumbuhan AS, pasar saham, yield, dan dolar berpotensi berbalik arah.
Kondisi ini menciptakan pola yang tidak biasa di pasar valuta asing, yakni sentimen risk-off yang justru diikuti penurunan yield Treasury dan pelemahan dolar. Berbeda dengan pola risk-off global pada umumnya yang mendorong investor masuk ke dolar, tekanan yang berasal dari aset AS sendiri dapat membuat permintaan Treasury meningkat sementara daya tarik dolar relatif berkurang.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober. Ekspektasi tersebut menguat setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga, sehingga menjadi faktor tambahan yang membatasi penguatan dolar dalam jangka pendek. (asd)
Sumber: Newsmaker.id