
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Senin (19/10), seiring membaiknya sentimen pasar terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan pemantauan harga terbaru, spot gold (XAU/USD) diperdagangkan di kisaran US$4.172,47 per troy ounce, menguat sekitar 0,17% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sepanjang perdagangan, emas bergerak dalam rentang US$4.156,95 hingga US$4.187,66, mencerminkan upaya pemulihan setelah mengalami tekanan pada akhir pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut turut didukung pelemahan harga minyak mentah yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global, sehingga memberikan ruang bagi emas untuk kembali menarik minat investor.
Dari sisi fundamental, pelemahan harga minyak menjadi salah satu katalis positif bagi emas setelah Amerika Serikat melonggarkan sejumlah pembatasan terhadap Rusia yang berpotensi meningkatkan pasokan energi global. Penurunan harga energi dapat membantu mengurangi tekanan inflasi dan menekan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Kondisi ini menguntungkan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga daya tariknya cenderung meningkat ketika prospek suku bunga dan imbal hasil obligasi melemah. Meski demikian, pasar masih mencermati tekanan inflasi Amerika Serikat yang belum sepenuhnya mereda, terutama akibat tingginya biaya impor dan ketidakpastian pasokan energi dari Timur Tengah.
Secara teknikal, pergerakan emas menunjukkan upaya pemulihan dengan area support terdekat berada di US$4.155–US$4.160, diikuti support lanjutan pada US$4.145 dan US$4.110. Sementara itu, resistance terdekat berada di US$4.188, kemudian US$4.195 hingga level psikologis US$4.200.
Apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas US$4.200, peluang kenaikan menuju US$4.217 berpotensi terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support US$4.155 dapat memicu tekanan jual lanjutan menuju US$4.145 hingga US$4.110. Dengan demikian, struktur pergerakan jangka pendek masih menunjukkan fase pemulihan yang membutuhkan konfirmasi penembusan resistance untuk memperkuat momentum bullish.
Ke depan, arah pergerakan emas akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan indeks dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve menjelang pertemuan akhir Oktober. Apabila tekanan inflasi mereda dan dolar AS melemah, emas berpeluang memperoleh dorongan tambahan untuk menguji resistance US$4.200.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan Laut Merah masih berpotensi meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven. Namun, apabila data ekonomi Amerika Serikat kembali menunjukkan tekanan inflasi yang kuat dan mendorong ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat, dolar AS berpeluang menguat dan membatasi kenaikan emas. Oleh karena itu, prospek emas jangka pendek cenderung positif secara terbatas, dengan US$4.200 menjadi area penting untuk menentukan kelanjutan pemulihan harga.(CP)