
Trending

Kripto
Sumber: Newsmaker.id
Bitcoin kembali menguat ke kisaran US$82.500–83.000 pada perdagangan Jumat (9/10), setelah sebelumnya tertekan hingga sekitar US$80.400 dan menyentuh level terendah dalam hampir tiga pekan. Pemulihan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela November. Pernyataan tersebut membantu meredakan kekhawatiran geopolitik, menekan harga minyak, dan memberikan sedikit ruang bagi aset berisiko untuk kembali pulih.
Meski demikian, Bitcoin masih berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan setelah sebelumnya menikmati reli selama tiga pekan. Tekanan terhadap aset kripto datang dari tingginya yield Treasury dan ketidakpastian mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Yield yang tinggi membuat aset berisiko seperti kripto menjadi kurang menarik karena investor memiliki alternatif dengan imbal hasil lebih tinggi. Selain itu, aksi ambil untung setelah penguatan sepanjang kuartal ketiga turut membatasi momentum Bitcoin.
Arus dana ke produk investasi Bitcoin juga menjadi perhatian. ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar besar, termasuk sekitar US$484,9 juta pada 7 Oktober dan US$244,1 juta pada 8 Oktober, sehingga total arus keluar dalam dua sesi mencapai hampir US$730 juta. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan institusional terhadap Bitcoin sedang menghadapi tekanan ketika kondisi makroekonomi menjadi kurang mendukung. Di sisi lain, aksi pembelian oleh Strategy belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan jual di pasar.
Pergerakan negatif juga terlihat pada sejumlah altcoin utama. Ethereum masih berada di sekitar US$2.500 dan mencatat pelemahan mingguan sekitar 9%, sementara XRP, BNB, Solana, dan Cardano juga mengalami tekanan lebih besar dibandingkan Bitcoin. Kondisi ini menunjukkan investor cenderung lebih selektif setelah reli sebelumnya, dengan altcoin menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap aksi ambil untung dan perubahan sentimen risiko.
Analisis Newsmaker:
Rebound Bitcoin ke atas US$82.000 menunjukkan munculnya minat beli setelah tekanan tajam sebelumnya, tetapi pemulihan belum sepenuhnya mengubah tren jangka pendek. Meredanya risiko konflik AS-Iran dan turunnya harga minyak memberikan katalis positif, tetapi tekanan dari yield Treasury serta arus keluar ETF masih menjadi penghambat utama. Selama Bitcoin belum mampu mengembalikan momentum dan arus dana institusional belum kembali konsisten, volatilitas masih berpotensi tinggi. Pergerakan yield AS, kebijakan The Fed, harga minyak, serta perkembangan arus ETF akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah rebound Bitcoin dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan jual.
Sumber : Newsmaker.id