
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 102,25 pada perdagangan Jumat (9/10), naik sekitar 0,3% sepanjang pekan dan berada di jalur untuk mencatat penguatan mingguan keempat berturut-turut. Penguatan tersebut menunjukkan permintaan terhadap dolar masih cukup kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dolar juga tetap berada dekat level tertingginya sejak April 2025 setelah sebelumnya mendapat dukungan dari kenaikan yield obligasi dan kekhawatiran terhadap inflasi.
Salah satu faktor yang menjaga daya tarik dolar adalah kondisi ekonomi AS yang relatif lebih kuat dibandingkan sejumlah negara maju lainnya. Di sisi lain, kenaikan harga energi sebelumnya meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong pasar memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama. Namun, penurunan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela membantu meredakan sebagian tekanan terhadap pasar obligasi dan inflasi.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve tetap menjadi perhatian utama. Pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga pada Oktober relatif rendah, tetapi probabilitas kenaikan pada Desember tetap tinggi. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang menilai pengetatan tambahan mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi turut menjaga ekspektasi suku bunga tetap tinggi. Di sisi lain, data sentimen konsumen AS yang melemah memberikan sinyal bahwa kondisi ekonomi mulai menghadapi tekanan.
Euro masih berada di bawah tekanan dan menuju penurunan mingguan kelima berturut-turut. Mata uang tunggal Eropa tersebut sempat menyentuh US$1,1161 pada awal pekan sebelum bergerak di sekitar US$1,1198. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis, tingginya utang pemerintah, serta ketidakpastian politik menjadi faktor yang membatasi pemulihan euro dan secara relatif mendukung posisi dolar.
Analisis Newsmaker: Dolar AS masih memiliki momentum positif meskipun sempat terkoreksi dari level tertingginya. Kombinasi yield AS yang masih tinggi, ekspektasi suku bunga The Fed, serta ketidakpastian fiskal di Eropa menjadi penopang utama DXY. Namun, penurunan harga minyak dan melemahnya sentimen konsumen AS dapat mengurangi sebagian tekanan bullish terhadap dolar jika pasar mulai melihat perlambatan ekonomi dan berkurangnya kebutuhan pengetatan moneter. Dalam jangka pendek, pergerakan yield Treasury dan komunikasi pejabat The Fed akan menjadi katalis penting bagi arah dolar berikutnya.
Sumber : Newsmaker.id