
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak stabil pada perdagangan Jumat (28/8) setelah optimisme terhadap kesepakatan penuh AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz mulai memudar. Brent kontrak November bergerak di sekitar US$88 per barel setelah naik 1,8% pada Kamis, sementara WTI berada di sekitar US$83 per barel.
Sentimen berubah setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan memberi tahu mediator bahwa Washington tidak tertarik kembali ke ketentuan gencatan senjata Juni dengan Teheran. Pernyataan tersebut mengurangi harapan bahwa kesepakatan Iran-Oman mengenai pengelolaan Hormuz dapat berkembang cepat menjadi perjanjian yang lebih luas.
Gedung Putih juga menegaskan bahwa AS saat ini tidak sedang bernegosiasi dengan Iran dan blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku. Kondisi ini membuat risiko geopolitik belum benar-benar hilang, meskipun pembicaraan diplomatik melalui negara-negara kawasan masih berlangsung.
Namun, dari sisi pasokan, situasi di Hormuz mulai menunjukkan perbaikan. Pelaku pasar memperkirakan sekitar 6 juta hingga 8 juta barel minyak per hari kini kembali melintasi jalur tersebut. Arus ini jauh lebih besar dibandingkan bulan-bulan awal perang, sehingga pasar mulai lebih mampu beradaptasi dengan kondisi konflik yang berlangsung.
Goldman Sachs memperkirakan total ekspor dari kawasan Teluk Persia kini berada sekitar 15 juta–16 juta barel per hari, meski masih sekitar 7 juta–8 juta barel di bawah level sebelum perang. Klaim AS bahwa ranjau di jalur pelayaran utama telah dibersihkan turut memperbaiki sentimen, meski sejumlah sekutu masih meragukan apakah seluruh ranjau benar-benar sudah disingkirkan.
Analisis Newsmaker: minyak saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah koreksi tajam, dengan pasar menyeimbangkan dua faktor besar: peluang diplomasi yang melemah versus arus minyak Hormuz yang semakin pulih. Selama Brent mampu bertahan di sekitar US$87–US$88, tekanan jual mulai terbatas. Namun, gagalnya pembicaraan AS-Iran atau gangguan baru terhadap pelayaran dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko dan mendorong harga lebih tinggi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id