
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Selasa (22/9) setelah mengalami penurunan hampir 8% dalam empat sesi terakhir. Pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan Timur Tengah seiring meningkatnya aktivitas ekspor Arab Saudi dan harapan adanya perkembangan diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran. Brent bertahan di sekitar US$100,37 per barel, sementara WTI berada di level US$96,95 per barel.
Data satelit menunjukkan aktivitas pengiriman minyak Arab Saudi dari kawasan Teluk Persia meningkat signifikan, mengindikasikan kerajaan mulai mengalihkan kembali ekspornya melalui Selat Hormuz setelah sebelumnya gangguan akibat penutupan pipa Timur-Barat. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi berkurangnya pasokan energi global.
Perhatian investor kini berbunyi pada agenda diplomasi Presiden AS Donald Trump yang akan menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB dan berpotensi bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Selain itu, Trump juga mengadakan pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pekan ini. Pasar menilai perkembangan hubungan AS-Iran dan AS-China dapat memberikan dampak besar terhadap prospek energi global.
Meski tekanan harga mulai mereda, risiko geopolitik masih tetap menjadi perhatian. Konflik Timur Tengah telah mendorong harga minyak naik lebih dari 60% sepanjang tahun ini akibat gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur energi. Di sisi lain, harga diesel AS telah mencatat rekor baru di atas US$6,50 per galon, menunjukkan tekanan pada pasar bahan bakar masih tinggi.
Selain Timur Tengah, pasar juga mencermati gangguan produksi di Libya setelah ladang minyak terbesar di negara tersebut, Sharara, mengalami penurunan produksi lebih dari setengah akibat penutupan pipa menuju terminal ekspor Zawiya. Sementara itu, tekanan energi yang memicu inflasi global juga menjadi perhatian The Fed, dengan Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem menyebut kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Analisis Newsmaker:
Harga minyak mulai stabil setelah pasar melihat adanya perbaikan aliran pasokan dan peluang diplomasi. Namun, konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang dapat kembali memicu volatilitas. Investor akan mencermati hasil pertemuan Trump dengan pemimpin Iran dan China, karena perkembangan geopolitik tersebut dapat menentukan arah harga energi berikutnya. (asd)