
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (6/11), meski penurunannya mulai mereda seiring harga minyak kembali melemah. Spot gold turun 0,5% ke US$4.067,52 per ounce, setelah sebelumnya tertekan oleh aksi jual tajam di saham teknologi. Sementara itu, Brent kembali berada di bawah US$100 per barel setelah muncul perkembangan terkait upaya deeskalasi konflik Timur Tengah.
Tekanan terhadap emas berkaitan erat dengan pergerakan harga minyak yang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan prospek inflasi dan suku bunga. Jika harga energi terus turun, tekanan inflasi berpotensi mereda sehingga kebutuhan terhadap kebijakan moneter yang ketat dapat berkurang. Kondisi tersebut sebenarnya dapat menjadi faktor positif bagi emas dalam jangka menengah.
Namun, emas juga masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan aksi jual di pasar saham global. Sebelumnya, emas sempat melonjak hampir 4% setelah hasil pemilu paruh waktu AS mendorong penurunan yield Treasury dan minyak. Investor melihat kemenangan Demokrat berpotensi meningkatkan tekanan untuk mengakhiri konflik Iran serta membatasi belanja dan pinjaman pemerintah AS.
Kini perhatian pasar kembali beralih ke data Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang akan menjadi petunjuk penting mengenai arah ekonomi dan kebijakan suku bunga The Fed. Data klaim pengangguran mingguan sebelumnya menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan, sehingga investor membutuhkan sinyal tambahan untuk menentukan apakah ekspektasi suku bunga perlu kembali disesuaikan.
Analisis Newsmaker: emas saat ini berada di tengah tarik-menarik antara pelemahan minyak dan potensi meredanya inflasi dengan penguatan dolar serta ketidakpastian pasar saham. Jika NFP menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut karena ekspektasi suku bunga tinggi kembali menguat. Sebaliknya, data yang melemah dapat membuka ruang bagi emas untuk kembali mendapatkan momentum. (srh)
Sumber: Newsmaker.id