
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 Jepang mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan Jumat (6/11/2026), merosot 5,96% dan ditutup di level 57.435, posisi terendah sejak April. Penurunan tersebut memperbesar kerugian indeks hingga lebih dari 9% sepanjang pekan, sekaligus mencatat kinerja mingguan terburuk sejak Maret 2020 ketika pandemi Covid-19 mengguncang pasar keuangan global. Tekanan jual yang meluas terutama terjadi pada saham-saham teknologi, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap masa depan industri kecerdasan buatan (AI) dan perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS).
Kejatuhan pasar saham Jepang dipicu oleh kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela AS yang memunculkan ekspektasi pengetatan regulasi terhadap industri AI. Investor mengkhawatirkan bahwa pengawasan lebih ketat dapat memperlambat pembangunan pusat data dan mengurangi investasi infrastruktur teknologi. Kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap perusahaan Jepang yang memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok industri AI global, terutama produsen semikonduktor, perangkat elektronik, dan perusahaan penyedia teknologi pendukung. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor AI mendorong investor mengurangi kepemilikan saham teknologi secara besar-besaran.
Tekanan jual terlihat dari penurunan tajam sejumlah saham teknologi unggulan Jepang sepanjang pekan. Kioxia Holdings mencatat kejatuhan sebesar 36,8%, sementara Advantest merosot 19,6% dan Taiyo Yuden melemah 22%. Saham Tokyo Electron juga turun 13,2%, sedangkan SoftBank Group kehilangan 20,8% nilainya. Besarnya penurunan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang sebelumnya mendapatkan keuntungan dari meningkatnya investasi AI kini menghadapi tekanan akibat perubahan ekspektasi investor. Kondisi ini turut memperlihatkan tingginya sensitivitas pasar saham Jepang terhadap perkembangan sektor teknologi Amerika Serikat.
Selain kekhawatiran terhadap industri AI, investor juga mencermati perkembangan kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ). Data terbaru menunjukkan bahwa upah nominal Jepang meningkat dengan laju tercepat dalam hampir tiga dekade, sehingga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember. Pertumbuhan upah yang tinggi dapat meningkatkan daya beli masyarakat, tetapi juga berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan mendorong bank sentral melanjutkan pengetatan kebijakan. Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pinjaman perusahaan dan memengaruhi valuasi saham, terutama perusahaan teknologi yang memiliki ekspektasi pertumbuhan tinggi.