
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak turun pada perdagangan Senin (21/9), memperpanjang penurunan selama empat sesi berturut-turut setelah tanda-tanda peningkatan ekspor Arab Saudi melalui Selat Hormuz dan harapan kemajuan diplomasi konflik Iran mulai mengurangi tekanan pasar. Brent turun 3,4% ke level US$100,34 per barel, sementara WTI kontrak Oktober melemah 4,5% ke US$95,78 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah data satelit menunjukkan aktivitas pengiriman minyak Arab Saudi dari kawasan Teluk Persia meningkat signifikan sepanjang akhir pekan. Jumlah kapal yang terlihat di pelabuhan utama Saudi menjadi yang tertinggi sejak Juni, menunjukkan bahwa kerajaan mulai mengalihkan kembali jalur ekspornya melalui Selat Hormuz setelah sebelumnya mengalami gangguan akibat serangan drone terhadap pipa East-West.
Selain faktor pasokan, pasar juga merespons perkembangan diplomasi terkait konflik Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pekan ini. Trump juga dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping, sementara China menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran yang memberikan dukungan ekonomi bagi Teheran.
Meski tekanan harga minyak mulai mereda, risiko terhadap infrastruktur energi masih menjadi perhatian investor. Ukraina masih melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia yang menimbulkan kekhawatiran bahwa pemulihan fasilitas energi di Timur Tengah dan Eropa dapat membutuhkan waktu lebih lama. Di sisi lain, pemerintahan Trump dilaporkan mengusulkan investasi US$5 miliar untuk membantu negara-negara Timur Tengah membangun kembali infrastruktur energi yang terdampak konflik.
Arus minyak dan gas melalui Selat Hormuz, jalur energi paling penting dunia, juga menunjukkan pemulihan. Menurut Komando Pusat AS, aliran minyak dan LNG melalui kawasan tersebut dalam dua pekan terakhir mencapai level tertinggi dalam enam bulan, dengan sekitar 32 kapal per hari melintas menggunakan dukungan keamanan. Namun, ancaman geopolitik masih tetap ada setelah Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara untuk Riyadh dan wilayah pusat energi Yanbu akibat ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Analisis Newsmaker: Penurunan minyak hari ini menunjukkan pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik setelah melihat adanya pemulihan jalur pasokan dan peluang diplomasi AS-Iran. Namun, harga minyak masih berada di atas level sebelum eskalasi konflik karena investor tetap memperhitungkan risiko gangguan energi. Pergerakan berikutnya akan bergantung pada perkembangan pertemuan diplomatik di PBB, keamanan Selat Hormuz, serta kemampuan produsen utama menjaga stabilitas ekspor. (arl)
Sumber: Newsmaker.id