
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak stabil pada awal pekan setelah investor mencermati risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah dan upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Brent diperdagangkan di sekitar US$104 per barel, sementara WTI berada di bawah US$100 per barel.
Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara di Riyadh pada akhir pekan, yang menjadi peringatan pertama di ibu kota tersebut sejak puncak konflik AS-Iran pada Maret dan April. Peringatan juga dikeluarkan di sejumlah wilayah Laut Merah, sementara Arab Saudi masih menghadapi ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Di sisi diplomasi, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB di New York pekan ini. Perdana Menteri Qatar juga mengatakan komunikasi antara AS dan Iran masih berlangsung, dengan Qatar menjadi salah satu mediator dalam konflik tersebut.
Pasokan energi global juga menjadi perhatian karena konflik sebelumnya sempat mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur penting yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar dunia. Saat ini, aliran minyak mentah dan gas alam cair melalui jalur tersebut telah kembali mencapai level tertinggi dalam enam bulan. Investor juga memantau pemulihan jaringan pipa East-West milik Arab Saudi yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan.
Sementara itu, konflik di luar Timur Tengah turut memengaruhi pasar energi. Kilang minyak Moskow menjadi sasaran serangan drone dalam serangan besar-besaran Ukraina. Kondisi tersebut ikut memperketat pasar bahan bakar, terutama diesel. Kenaikan harga energi dari berbagai konflik juga meningkatkan tekanan inflasi global, yang menjadi perhatian bank sentral seperti The Fed.