
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Kamis (1/10) setelah laporan mengenai penambahan kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan. Brent naik 4,4% dan ditutup di US$102,31 per barel, sementara WTI menguat 2,7% ke US$92,87 per barel.
Amerika Serikat dilaporkan mengirim kelompok kapal induk ketiga ke kawasan tersebut, disertai kapal Korps Marinir dan tambahan sekitar 9.000–10.000 personel. Langkah itu meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan meningkatnya aktivitas militer AS–Iran, meskipun arah kebijakan berikutnya masih belum pasti.
Lonjakan harga terjadi meskipun ekspor minyak Timur Tengah telah pulih mendekati tingkat sebelum perang. Namun, pemulihan tersebut masih rapuh. Tiga kapal tanker berbendera Liberia dilaporkan terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz pekan ini, kembali menyoroti risiko keamanan di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Tekanan juga datang dari pasar produk olahan. Serangan terhadap kilang Rusia telah mengganggu pasokan diesel, sementara Rusia mempertahankan pembatasan ekspor bahan bakar. Kondisi tersebut membuat pasokan diesel global tetap ketat dan meningkatkan kekhawatiran bahwa harga energi tinggi dapat bertahan lebih lama.
Di Asia, kekhawatiran pasokan bertambah setelah kilang-kilang China menangguhkan ekspor produk minyak untuk Oktober guna memprioritaskan kebutuhan domestik. Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi pasokan bensin, diesel, dan bahan bakar jet di pasar internasional ketika persediaan global sudah berada di bawah tekanan.
Analisis Newsmaker:
Kenaikan minyak saat ini didorong oleh kombinasi risiko geopolitik dan semakin ketatnya pasar produk bahan bakar, meskipun aliran minyak mentah Timur Tengah mulai pulih. Penambahan kekuatan AS, kerentanan pelayaran Hormuz, serta berkurangnya ekspor produk minyak dari Rusia dan China membuat pasar tetap sensitif terhadap perkembangan baru. Jika tensi kawasan meningkat, premi risiko minyak dapat bertahan tinggi; sebaliknya, stabilisasi keamanan dan pemulihan pasokan berpotensi meredakan tekanan harga.
Sumber: Newsmaker.id