
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas turun di bawah level psikologis US$4.400 per troy ounce pada perdagangan Senin (7/9), tertekan oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Spot gold turun sekitar 0,7% ke US$4.398,89 per ounce, sementara kontrak emas berjangka AS melemah 0,7% ke US$4.444,11. Pada Jumat lalu, emas juga turun sekitar 1%.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus, lebih tinggi dari perkiraan pasar, sementara tingkat pengangguran tetap stabil. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih cukup tangguh dan membuka peluang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga September berada di sekitar 60%. Prospek suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga sekaligus memperbesar opportunity cost memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Dolar AS juga sempat menguat setelah laporan tenaga kerja dirilis pada Jumat, menambah tekanan bagi emas. Penguatan greenback membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Analis ING memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September berpotensi memberikan dukungan sementara terhadap dolar.
Fokus pasar kini beralih ke data inflasi AS pekan ini. Producer Price Index akan dirilis pada Kamis, disusul Consumer Price Index pada Jumat. Jika tekanan inflasi kembali menguat, ekspektasi kenaikan bunga berpotensi semakin besar dan menekan emas lebih lanjut. Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat membuat pasar mengurangi taruhan terhadap pengetatan kebijakan moneter.
Risiko inflasi juga diperkuat oleh kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Iran mengatakan telah menargetkan tiga kapal tanker dan sejumlah kapal yang terkait dengan Amerika Serikat sebagai balasan atas serangan terhadap kapal Iran. Brent diperdagangkan mendekati US$97 per barel, meningkatkan kekhawatiran bahwa biaya energi yang tinggi dapat membuat inflasi lebih sulit turun.
Dari sisi teknikal, emas masih menunjukkan tekanan setelah sebelumnya turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar US$4.526. Sejak rebound dari area US$4.000 pada Juli, pergerakan harga cenderung terbatas dalam rentang yang relatif sempit. Penurunan di bawah US$4.400 memperbesar risiko koreksi lanjutan jika data inflasi AS kembali menguat.
Analisa Newsmaker: arah emas dalam jangka pendek masih cenderung tertekan selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi. Area US$4.400 menjadi level penting yang perlu kembali direbut untuk memperbaiki momentum. Jika PPI dan CPI AS lebih panas dari perkiraan, emas berisiko melanjutkan penurunan. Namun, ketegangan geopolitik dan tingginya harga minyak masih dapat menjaga sebagian permintaan safe haven dan membatasi koreksi yang lebih dalam. (arl)
Sumber: Newsmaker.id