
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Jumlah pengajuan awal tunjangan pengangguran Amerika Serikat (AS) turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif stabil di tengah ketidakpastian ekonomi. Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (22/10/2026), klaim pengangguran awal (Initial Jobless Claims) turun sebanyak 6.000 menjadi 194.000 pada pekan yang berakhir 17 Oktober. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi ekonom dalam survei Bloomberg sebesar 200.000 klaim, mengindikasikan bahwa tingkat pemutusan hubungan kerja masih relatif terkendali.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada jumlah penerima tunjangan pengangguran lanjutan (Continuing Jobless Claims) yang meningkat sebanyak 25.000 menjadi 1,73 juta pada pekan sebelumnya, mencapai level tertinggi dalam enam minggu. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa meskipun jumlah pekerja yang baru kehilangan pekerjaan mengalami penurunan, sebagian penganggur kemungkinan masih menghadapi kesulitan untuk kembali memperoleh pekerjaan. Perbedaan arah kedua indikator ini mencerminkan pasar tenaga kerja AS yang masih menunjukkan ketahanan, tetapi belum sepenuhnya terbebas dari risiko perlambatan perekrutan.
Data ketenagakerjaan yang lebih baik dari perkiraan berpotensi memperkuat keyakinan Federal Reserve bahwa ekonomi AS masih mampu bertahan menghadapi kebijakan suku bunga tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian investor menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober mendatang, terutama ketika tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi masih membayangi perekonomian. Jika pasar tenaga kerja tetap solid dan inflasi sulit mereda, The Fed memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Hal ini berpotensi mendukung dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah, sekaligus memberikan tekanan terhadap harga emas.
Kesimpulan
Penurunan klaim pengangguran AS menjadi 194.000 menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih memiliki ketahanan, meskipun kenaikan klaim lanjutan mengindikasikan adanya tantangan dalam penyerapan tenaga kerja.
Dari sisi pasar keuangan, data tersebut berpotensi memberikan sentimen positif bagi dolar AS karena dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak perlu terburu-buru melonggarkan kebijakan moneter. Sebaliknya, emas berisiko menghadapi tekanan apabila data ketenagakerjaan yang solid mendorong kenaikan yield Treasury.(yds)
Sumber: Newsmaker.id