
Trending
.png)
Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengancam memperluas pembatasan jalur pelayaran dari Selat Hormuz hingga Selat Bab al-Mandeb dan Terusan Suez. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pada Senin (19/10/2026) bahwa Teheran belum sepenuhnya menutup Selat Hormuz dan masih memiliki kemampuan untuk memperluas cakupan blokade. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan internasional, terutama distribusi minyak dan gas yang menjadi kebutuhan utama perekonomian dunia.
Ancaman tersebut muncul ketika hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel masih berada dalam situasi tegang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan kedua negara agar tidak kembali melancarkan serangan terhadap Teheran. Araghchi menegaskan bahwa Iran masih memiliki urusan yang belum selesai dengan Washington dan Tel Aviv. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa risiko meningkatnya konflik masih terbuka, meskipun berbagai pihak terus menyerukan upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Di tengah situasi tersebut, Organisasi Pengelolaan Selat Hormuz Iran mengumumkan penambahan 122 kapal ke dalam daftar ketidakpatuhan karena dianggap melanggar aturan transit yang ditetapkan otoritas Iran. Langkah ini menambah ketidakpastian bagi perusahaan pelayaran internasional yang menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman energi dari kawasan Teluk Persia. Namun, masuknya kapal ke dalam daftar tersebut belum otomatis berarti seluruh kapal telah ditahan atau dilarang melintas.
Ancaman perluasan blokade menjadi perhatian serius karena Selat Hormuz, Bab al-Mandeb, dan Terusan Suez merupakan jalur strategis perdagangan global. Selat Hormuz menjadi pintu keluar utama pengiriman minyak dari negara-negara Teluk, sedangkan Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan jalur menuju Terusan Suez. Jika gangguan pelayaran meluas ke ketiga kawasan tersebut, kapal pengangkut minyak dan barang berpotensi harus menempuh rute lebih panjang, sehingga meningkatkan biaya pengiriman, asuransi, dan risiko keterlambatan pasokan ke berbagai negara.
Bagi pasar keuangan global, meningkatnya ancaman terhadap jalur distribusi energi berpotensi kembali mendorong harga minyak dunia akibat kekhawatiran berkurangnya pasokan. Kenaikan harga minyak juga dapat memperbesar tekanan inflasi, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, sehingga memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral. Sementara itu, emas berpeluang mendapatkan dukungan sebagai aset aman ketika ketegangan geopolitik meningkat. Namun, apabila inflasi energi mendorong dolar AS dan imbal hasil obligasi menguat, kenaikan emas bisa tertahan. Kini perhatian pasar tertuju pada satu pertanyaan besar: apakah ancaman Iran hanya menjadi tekanan politik, atau akan berkembang menjadi gangguan nyata terhadap perdagangan energi dunia?