
Trending

Analisis Pasar
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Jumat (11/9), namun masih mencatat kenaikan lebih dari 7% sepanjang pekan, sementara harga diesel AS menyentuh rekor tertinggi akibat kekhawatiran gangguan pasokan berkepanjangan di Timur Tengah. Brent dan WTI sebelumnya melonjak lebih dari 6% pada Kamis setelah serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz meningkat. Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di kawasan tersebut setelah AS menghantam lima tanker minyak Iran, sementara jumlah kapal yang melintasi Hormuz turun menjadi hanya tujuh pada Kamis, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal. Harga minyak kemudian berbalik melemah setelah muncul laporan bahwa para menteri luar negeri di Timur Tengah tengah membahas kesepakatan sementara dengan Iran untuk menjaga kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz.
Risiko pasokan tetap tinggi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menguasai Pelabuhan Mocha di Yaman dan serangan terhadap fasilitas energi Saudi memperluas ancaman dari Hormuz ke kawasan Laut Merah. International Energy Agency (IEA) memperkirakan pasokan dan permintaan minyak global tahun ini akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, seiring konflik Iran menunda normalisasi arus energi Timur Tengah hingga 2027. Lonjakan harga energi juga mulai menimbulkan kekhawatiran inflasi global, bahkan dua pejabat European Central Bank membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan jika kenaikan harga energi terus menyebar ke harga barang dan jasa di kawasan euro. (arl)
Harga minyak brent pada saat analisis ini dirilis: $103.73
- Buy jika harga bergerak ke $103.98
- Sell jika harga bergerak ke $103.12
Resisten 2: $105.30
Resisten 1: $104.47
Support 1: $102.63
Support 2: $101.93
Catatan: Artikel ini bersifat analitis dan bukan referensi definitif. Harap mempengaruhi dampak perkembangan fundamental dan teknikal terhadap perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.
Sumber: Newsmaker.id