Saham Hong Kong Ditutup Melemah Ditengah Kurang Jelasnya Akhiri Perang
Saham-saham China daratan dan Hong Kong ditutup melemah pada Kamis (2/4) setelah sentimen investor memburuk menyusul pidato Presiden AS Donald Trump yang tidak memberikan jadwal pasti untuk mengakhiri perang Iran. Trump mengatakan militer AS hampir mencapai tujuannya di Iran, namun menegaskan operasi terhadap target-target di Republik Islam itu masih akan berlanjut dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Di akhir perdagangan, indeks Shanghai Composite turun 0,74%, sementara CSI300 melemah 1,04%. Di Hong Kong, Hang Seng Index turun 0,7%, sedangkan saham-saham teknologi mencatat tekanan lebih besar dengan indeks terkait turun 1,63%. Saham semikonduktor menjadi salah satu penekan utama setelah komentar Trump melemahkan selera risiko, dengan subindeks sektor tersebut turun masing-masing 3,1% dan 2,24%.
Pasar menilai fokus utama bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan kapan Selat Hormuz benar-benar dapat kembali dibuka. Ketidakjelasan itu mendorong kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi bisa bertahan lebih lama, terutama setelah Trump juga mengancam serangan terhadap pembangkit listrik Iran jika tidak ada kesepakatan. Harga minyak pun melonjak lebih dari US$5 pada Kamis, mendorong CSI300 Energy Index menguat 1,97% dan menjadi salah satu sektor yang mengungguli pasar.
Dampak perang mulai merembet ke sektor riil. Sejumlah maskapai China, termasuk Air China, mengatakan akan menaikkan fuel surcharge domestik mulai 5 April, seiring naiknya harga bahan bakar jet akibat konflik Iran. Meski begitu, pasar China dinilai relatif lebih tenang dibanding bursa regional lain, didukung persepsi bahwa Beijing memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi guncangan energi.
Penyebab: Melemahnya pasar dipicu oleh absennya kepastian soal akhir perang Iran, berlanjutnya ancaman eskalasi dari AS, dan kekhawatiran bahwa Selat Hormuz belum akan segera kembali normal, sehingga risiko pasokan energi tetap tinggi.
Dampak: Tekanan risk-off mendorong pelemahan saham teknologi dan semikonduktor, sementara sektor energi menguat karena harga minyak melonjak. Kenaikan biaya energi juga mulai diteruskan ke konsumen, termasuk melalui surcharge maskapai, mempertegas transmisi konflik ke inflasi dan aktivitas ekonomi kawasan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id