Bursa Asia Merosot, Perang Dagang AS–China Kembali Memanas
Pasar saham Asia-Pasifik kompak melemah pada Senin pagi setelah ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali meningkat. Kedua negara saling melontarkan tudingan dan memperketat kebijakan perdagangan, memicu kekhawatiran investor terhadap dampaknya bagi ekonomi global.
China menyatakan “tidak takut perang dagang” usai Presiden AS Donald Trump mengancam tarif baru hingga 100% untuk impor asal China. Langkah ini diambil setelah Beijing memberlakukan pembatasan ekspor mineral tanah jarang, yang penting bagi industri teknologi. Kementerian Perdagangan China menuding AS melakukan “standar ganda” dalam kebijakan dagangnya.
Menurut analisis Goldman Sachs, pernyataan dan kebijakan terbaru kedua negara menunjukkan Beijing mungkin tengah menekan AS untuk memberikan konsesi lebih besar, namun di sisi lain, risiko eskalasi konflik perdagangan juga meningkat tajam.
Kekhawatiran pasar tercermin di bursa regional: indeks ASX 200 Australia turun 0,68%, Kospi Korea Selatan anjlok 2,35%, dan Kosdaq melemah 2,24%. Futures Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan pembukaan lebih rendah di level 24.968, jauh di bawah penutupan sebelumnya di 26.290,32. Sementara itu, pasar Jepang libur nasional hari ini.
Di Wall Street, sentimen negatif sudah terlihat sejak Jumat lalu. Dow Jones turun 878 poin atau 1,9%, S&P 500 merosot 2,71%, dan Nasdaq jatuh 3,56% — penurunan terbesar sejak April. Meskipun Trump mencoba meredam kekhawatiran lewat unggahan di Truth Social dengan mengatakan “semua akan baik-baik saja,” pasar tetap waspada terhadap arah kebijakan AS selanjutnya.(asd)
Poin Penting:
AS–China kembali tegang, saling tuding dan ancam tarif baru.
China siap hadapi perang dagang, sebut AS lakukan “standar ganda.”
Goldman Sachs: China bisa tekan AS, tapi risiko eskalasi tinggi.
Bursa Asia dan AS kompak anjlok, sentimen global memburuk.
Investor waspada menjelang langkah lanjutan dari Trump dan Beijing.
Sumber: Newsmaker.id