Tarif Trump Bikin Goyang, Saham Asia Diprediksi Melemah
Pasar saham Asia diperkirakan akan dibuka melemah setelah Wall Street terguncang oleh kombinasi data ekonomi AS yang kuat, beragam sinyal dari Federal Reserve, serta pengumuman tarif baru dari Presiden Donald Trump. Indeks berjangka Jepang dan Hong Kong sudah menunjukkan penurunan tipis, mengikuti pelemahan S&P 500 yang merosot tiga hari berturut-turut.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS (PDB) melaju dengan kecepatan tercepat dalam hampir dua tahun. Hal ini mendorong dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik, sehingga memicu kekhawatiran valuasi saham yang sudah terlalu tinggi. Trump juga memperkeruh sentimen dengan mengumumkan tarif 25% untuk truk impor mulai 1 Oktober, serta usulan tarif 100% untuk obat farmasi bermerek dan dipatenkan.
Kondisi ini membuat investor cenderung menahan diri menjelang rilis data inflasi penting akhir pekan. Para pelaku pasar menilai langkah kebijakan Fed berikutnya masih belum pasti, ditambah risiko penutupan pemerintah AS yang semakin menekan optimisme. Rasio harga terhadap pendapatan (P/E) S&P 500 bahkan menyentuh 22,9, level yang hanya pernah dicapai saat bubble dot-com dan reli pandemi.
Selain saham, pasar komoditas juga bergerak liar. Harga minyak berfluktuasi akibat ketegangan Rusia-NATO, perak menembus level $45 per ons untuk pertama dalam 14 tahun, dan emas kembali mendekati rekor tertinggi. Sementara itu, kripto mengalami tekanan hebat menjelang jatuhnya tempo opsi senilai $22 miliar, menambah tekanan di tengah pasar global.(ads)
Sumber: Bloomberg.com