Bursa Asia Turun Ikuti Wall Street, Pasar Waspadai Dampak Minyak ke Inflasi
Saham Asia melemah pada perdagangan awal Jumat, mengikuti penurunan Wall Street, ketika perhatian investor tertuju pada pergerakan minyak di tengah kekhawatiran perang Iran akan menekan pasokan energi dan memperbesar tekanan inflasi. Indikator saham Asia turun 0,5% setelah S&P 500 merosot 1,5% ke level terendah sejak November. Nasdaq 100 turun 1,7% pada Kamis, sementara indeks megacap mendekati ambang “koreksi”. Kontrak berjangka indeks AS dibuka menguat, memberi sinyal potensi jeda tekanan di awal sesi.
Pasar menilai premi risiko energi tetap tinggi meski minyak turun tipis pada Jumat, setelah mencetak penutupan tertinggi sejak Agustus 2022. Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi baru Iran sama-sama mengambil sikap tegas, dengan Iran menegaskan Selat Hormuz seharusnya tetap ditutup. Menurut catatan Chris Weston dari Pepperstone, pasar terlihat memperpanjang perkiraan durasi penutupan Hormuz dan konflik secara luas, yang berisiko lebih merusak prospek inflasi serta pola konsumsi, dan pada akhirnya menekan laba korporasi.
Kekhawatiran inflasi kembali menular ke pasar obligasi dan ekspektasi kebijakan. Treasury stabil pada awal Jumat setelah melemah di sesi sebelumnya, dengan imbal hasil tenor pendek naik ke level tertinggi sejak Agustus. Yield AS 2-tahun naik sembilan basis poin menjadi 3,74% pada Kamis, sedangkan 10-tahun naik tiga basis poin menjadi 4,26%. Pelaku pasar juga disebut telah menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026, memperketat kondisi finansial yang umumnya membebani valuasi saham, khususnya sektor berorientasi pertumbuhan.
Dolar sempat ditutup di level tertinggi hampir dua bulan sebelum melemah tipis pada Jumat. Investor menanti rilis data inflasi AS berikutnya, meski ukuran yang bersifat “backward-looking” itu dinilai berpotensi kurang menggeser pandangan pasar di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan The Fed diperkirakan menahan suku bunga pekan depan, fokus juga tertuju pada bahasa pernyataan dan proyeksi pejabat. Stephen Brown dari Capital Economics menilai hasil paling hawkish adalah jika The Fed menghapus bias pelonggaran dari pernyataan, sementara proyeksi median bergeser dari satu pemangkasan tahun ini menjadi tidak ada perubahan.
Di sisi energi, Goldman Sachs memperingatkan harga minyak bisa melampaui puncak 2008 jika arus melalui Hormuz tetap tertekan hingga Maret. International Energy Agency menyebut perang Iran memicu gejolak “belum pernah terjadi” di pasar minyak, berdampak pada sekitar 7,5% pasokan global dan porsi ekspor yang lebih besar. Pemerintah AS juga dilaporkan berencana menghapus sementara aturan maritim berusia seabad yang mewajibkan kapal Amerika digunakan untuk pengangkutan antarpelabuhan domestik, sebagai upaya meredam lonjakan harga. Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan Angkatan Laut AS dapat mulai mengawal tanker melalui Hormuz pada akhir Maret.
Pasar akan memantau arah harga minyak dan perkembangan Selat Hormuz, respons imbal hasil AS terhadap risiko inflasi, rilis inflasi AS, serta sinyal The Fed pekan depan di saat tekanan pada saham teknologi besar menjadi indikator penting bagi selera risiko global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id